Ada Kematian Persalinan, Tim Audit Turun

Kamis, 19 Mei 2016 - 17:48 WIB
KUNJUNGAN PEDULI: Kunjungan Lutfiah (kanan), bidan Kelurahan Kejawan Putih, ke rumah Rochimah yang hamil muda anak kesebelas ⒸJPIP

Kota Surabaya, yang menghijau dan gemerlap, tetap memperhatikan warganya yang duafa. Mereka dipantau khusus, terutama ketika hamil. Ikhtiar menjaga nyawa ibu dan bayinya. Inovasi kota ini berhasil meraih Otonomi Award 2014 kategori Pelayanan Kesehatan. Berikut paparan Taufik Akbar dari JPIP.

ROCHIMAH mendapat perhatian istimewa. Satuan tugas Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi (Penakib) Kota Surabaya memantau khusus ibu hamil berusia 45 tahun tersebut. Bersama kader kesehatan deteksi dini ibu hamil risiko tinggi (risti), satgas mendampingi warga Kejawan Putih, Mulyorejo, itu. Sehari-hari Rochimah adalah ibu rumah tangga, sedangkan suaminya pekerja serabutan.

”Beliau hamil anak kesebelas,”
kata dr Riana Restuti, kepala Puskesmas Mulyorejo, kepada peneliti JPIP Oktober lalu. Sejak hamil anak kelima, Rochimah dapat perhatian khusus. Apalagi, dia pernah mengalami keguguran sekali. Rupanya, Rochimah sulit ber-KB.

Secara berkala, kesehatan ibu bersahaja itu dipantau. Seminggu sekali petugas penakib atau kader kesehatan mengun- jungi rumahnya. Dia diberi tambahan makanan dan susu. Kader kesehatan sudah siaga apabila Rochimah akan melahirkan. Semua sudah disiapkan di puskesmas, bahkan siap juga bila harus dirujuk ke RSU dr Soetomo.

Pemantauan spesial ibu duafa yang hamil tersebut merupakan ikhtiar ke- bajikan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi (AKI-AKB). Sebanyak 200 kader kesehatan memantau ibu hamil risiko tinggi di Mulyorejo. Mereka berasal dari aktivis posyandu, PKK, serta aparat kelurahan dan kecamatan.

Bukan hanya pendampingan yang dilakukan Puskesmas Mulyorejo terkait penurunan AKI dan AKB. Dinkes Su- rabaya menjadikan puskesmas itu sebagaipilot project penyediaan po- liklinik pre-eklamsia. ”Biasanya po- liklinik tersebut berada di rumah sakit,” tutur dr Riana Restuti.

Sinergi dengan pemerintahan ke- camatan turut membantu kebajikan pengurangan AKI-AKB tersebut. Secara konkret, Camat Mulyorejo Syafik meneken Keputusan Camat tentang Pembentukan Tim Program Percepatan Penakib. ”Kami tak boleh berpangku tangan,” kata Syafik.

Keberhasilan ini terbaca dalam Profil kesehatan Surabaya, pada 2012 AKI dan AKB sebesar 144,64 per 100.000 kelahiran hidup dan 7,66 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara itu, pada 2013, AKI sebesar 119,15 per 100.000

kelahiran hidup dan AKB sebesar 6,18 per 1.000 kelahiran hidup.

Seiring pelaksanaan misi millennium development goals (MDGs), Wali Kota Tri Rismaharini memang lebih gencar melakukan upaya menekan AKI-AKB pada 2012. Risma mengeluarkan Keputusan Wali Kota Surabaya Tahun 2012 tentang Tim Penakib. Kerja tim ini tidak hanya melacak kematian ke rumah sakit dan rumah sakit bersalin, namun sampai pada pembahasan detail kasus kematian ibu dan bayi.

Penakib Kota Surabaya tergolong spesial, berbeda dengan daerah lainnya. Sebab, tidak hanya di level Dinkes Su- rabaya, untuk melacak kematian, tim ini memiliki satuan tugas (satgas) pe- nakib. Sebagaimana disebut di atas, satgas penakib bekerja sama dengan kader pendeteksi ibu hamil risti.

”Satgas ini hanya dimiliki Kota Sura- baya yang tersebar di 62 puskesmas. Bahkan, Kementerian Kesehatan be- lum memiliki program yang serupa ini,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Febri Rachmanita kepada peneliti JPIP belum lama ini.

Dinkes juga menggandeng Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi). Ini melibatkan 52 RS di Surabaya dalam mendukung upaya penurunan AKI dan AKB melalui 10 langkah. Mulai penyediaan poliklinik pre- eklamsia, pemindaian pre-eklamsia, hingga partisipasi rumah sakit dalam audit morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian).

Bukan hanya itu, manakala ditemukan kasus kematian ibu dan anak, dengan gerak cepat tanggap, dinkes bersama tim audit maternal perinatal langsung turun tangan. Mereka memastikan serta mengkaji letak kegagalan sistem dan program yang tidak dapat men- cegah kematian. Mencegah peng- ulangan kegagalan yang sama. ”Agar jadi pelajaran ke depan,” kata Febri.

Keberhasilan menurunkan AKI-AKB Kota Surabaya itu melengkapi capaian angka harapan hidup (AHH). Surabaya masuk 10 besar teratas di Jawa Timur berdasar ukuran AHH. Data BPS Jawa Timur 2013 menunjukkan, AHH Kota Surabaya itu mencapai 71,72 tahun. Yang tertinggi adalah Kota Blitar dengan 72,99 tahun; Kabupaten Trenggalek 72,30 tahun; Kota Mojokerto 72,13 tahun, lalu Tulungagung 72,09 tahun. Sementara itu, angka AHH Jawa Timur 70,19 tahun.

Selain makin rendahnya AKI-AKB, tingginya AHH Kota Surabaya dipengaruhi jumlah kasus gizi buruk yang semakin kecil. Bank data dinkes menyebutkan, mulai 2010 sampai 2013, persentase gizi buruk terus turun. Pada 2012, per- sentase gizi buruk sebesar 0,38 persen, sedangkan pada 2013 angkanya turun menjadi 0,27 persen. Cukup signifikan.

Sebagai upaya makin menekan angka gizi buruk, dinkes juga melakukan upaya berupa perawatan dan pendam- pingan makan bagi balita gizi buruk. Billkhusus kepada keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi di metropolis ini.

Sumber: Otonomi Update JPIP, www.jpip.or.id

Personal Kontak : Kota Surabaya
Instansi : Kota Surabaya



Komentar:
Didukung oleh