Ancaman Ganti Patung dari Pakde

Selasa, 29 November 2016 - 14:48 WIB

Jatim seperti tak ada lawan sebanding untuk kompetisi inovasi level nasional. Menggambarkan ketimpangan inovasi di Indonesia.  Berikut ulasan Haikal Atiq Zamzami, peneliti The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP). 

TIGA tahun berturut-turut sejak 2014, Jatim mendominasi ajang kompetisi sistem informasi inovasi pelayanan publik (Sinovik) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB). Dari Top 99 Sinovik, Jatim merebut 16 inovasi 2014, lalu 18 inovasi 2015, dan melejit 35 pada 2016.

Tak heran Tim Independen Reformasi Birokrasi Nasional datang untuk “mempelajari” Jatim pada Rabu-Kamis pekan ini. Rombongan Prof Eko Prasojo, Prof Siti Zuhro, dan Prof Djohermansyah Djohan itu ingin melihat langsung praktik pelayanan publik unggulan di Banyuwangi, Kota Surabaya, dan sejumlah SKPD provinsi.

Tim independen juga mengadakan stakeholders meeting unsur pemerintah dan nonpemerintah (termasuk JPIP) di Gedung Negara Grahadi, Kamis (24/11) lalu. Mereka menggali informasi tentang faktor-faktor inovasi menjamur di Jatim.

Menurut Provincial Advisor The Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Redhi Setiadi, setidaknya terdapat lima faktor mengapa di Jatim inovasi tumbuh subur. Pertama dan yang utama adalah adanya kepemimpinan yang mumpuni (effective leadership). Baik di provinsi maupun di kabupaten-kota di Jatim.

Pada tingkat provinsi, Gubernur Soekarwo alias Pakde Karwo, mempunyai komitmen yang tegas terhadap inovasi. Gubernur selalu menantang para kepala SKPD, badan, kantor, dan unit untuk kreatif dalam melayani masyarakat. “Jika tidak bisa berpikir kreatif menciptakan inovasi, akan saya ganti dengan patung penjaga pintu gerbang saja,” kata gubernur pada suatu kesempatan.

Pada tingkat kabupaten-kota, sejumlah daerah dipimpin oleh bupati dan wali kota inovatif. Sebut saja ada Bupati Banyuwangi, Pacitan, Bojonegoro, Malang, Situbondo, Tulungagung, wali kota Batu, dan Surabaya. Pada periode sebelumnya, ada bupati Lamongan, Jombang, Sidoarjo, Lumajang, Probolinggo, dan wali kota Blitar. Di tangan para pemimpin daerah inilah, banyak muncul inovasi pelayanan publik.

Faktor kedua, kerja sama tim yang bagus antara pemimpin daerah dengan pejabat SKPD (second liner). Pendek kata, second liner mampu menerjemahkan ide-ide pimpinan daerah menjadi program-program inovatif. Seringkali yang terjadi di beberapa daerah, bupati, wali kota, dan gubernur sudah berpikir secepat “Ferrari”, sedangkan second liner-nya berjalan seperti “angkot”.

Kerja sama tim yang bagus tersebut tertanam hingga ke tingkat pelayanan paling dasar. Inovasi-inovasi pelayanan publik tidak hanya ada di level dinas, badan, kantor, tetapi juga pada tingkat kecamatan bahkan desa. Inilah yang menyebabkan, misalnya, banyak puskesmas bersemangat menciptakan pelayanan-pelayanan inovatif untuk menyehatkan warganya.

Tahun ini saja ada dua puskesmas yang masuk TOP 35 Inovasi Pelayanan Publik SINOVIK Kemenpan RB. Dua inovasi itu adalah Pujasera (Pergunakan Jamban Sehat, Rakyat Aman) dari Puskesmas Tampo, Banyuwangi  dan Jempol Mancep, Pelayanan Cepet dari Puskesmas Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo. Total ada 5 kabupaten Jatim menang di antara 13 kabupaten pemenang. Di level provinsi, dari 8 pemenang, yang 5 inovasi Jatim. Kalau pemenang lain dari Jatim bisa ditambahkan adalah inovasi reaksi cepat Polresta Malang, Panic Button on Hand.

Faktor ketiga, terdapat iklim kompetisi inovasi antar daerah dan SKPD yang sangat sehat. Dari sisi pemerintah, setiap dua tahun sekali pemerintah provinsi menyelenggarakan Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik Jatim). Pesertanya adalah seluruh SKPD provinsi dan pemkab-pemkot seluruh Jatim.

Selain itu, sejak 2002 Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) juga menyelenggaran kompetisi tahunan. Kompetisi tersebut dikenal dengan Otonomi Awards. Pesertanya adalah 38 kabupaten-kota yang ada di Jatim.

Ajang kompetisi berikutnya adalah “Urun Ide Jatim.” Kompetisi ide ini terselenggara berkat kerja sama Pemprov Jatim dengan program TRANSFORMASI (Transformasi Administrasi-Peningkatan Inovasi) yang dilaksanakan oleh lembaga kerja sama internasional dari Jerman, GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit).

Ajang adu ide inovatif pelayanan publik tersebut terbuka untuk umum dan aparat sipil negara. Adanya kompetisi yang konsisten di tingkat provinsi tersebut jelas memicu lahirnya inovasi berkelanjutan.  

Faktor keempat, adanya dukungan dan kerja sama yang baik antar mitra pembangunan yang ada di Jatim. Mitra pembangunan yang dimaksud adalah lembaga pembangunan internasional yang mempunyai fokus pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Misal, GIZ, ADB (Asia Development Bank), USAID (Amerika Serikat), dan DFAT (Australia).

Mitra pembangunan tersebut saling berbagi tanggung jawab mendampingi pemerintah provinsi dan kabupaten-kota dalam upaya peningkatan pelayanan publik. Bimbingan teknis yang diberikan meliputi peningkatan kapasitas kelembagaan, pemetaan masalah pelayanan publik, kreasi inovasi, penyebarluasan inovasi hingga replikasi praktik baik ke daerah lain dalam lingkup provinsi.

Faktor terakhir, adanya pelatihan dan pemdampingan teknis untuk mengemas inovasi-inovasi secara lengkap dan jelas. Ini dilakukan baik oleh pemerintah provinsi, kabupaten-kota maupun mitra pembangunan.

Sebagian besar inovasi Jatim yang masuk dalam daftar TOP 99 Sinovik Kemenpan RB adalah hasil dari pendampingan yang dimaksud. Sebelum proposal diajukan, para inovator dilatih untuk menemukan sudut pandang yang menarik dan terfokus. Judul inovasi pun perlu dikonsultasikan dengan para ahli.

Penulisan proposal inovasi yang lugas, akurat, dan jelas menjadi materi pokok dalam pelatihan dan pendampingan. Narasumbernya berasal dari kalangan perguruan tinggi, penulis profesional, dan media massa. Inovasi yang dapat diceritakan dengan runtut, jelas, dan tuntas menjadi salah satu kunci utama kemenangan Jatim.

Suasana subur inovasi di Jatim ini jauh meninggalkan provinsi lain, apalagi luar Jawa. Tak baik bila Jatim moncer sendirian. Perlu kiat pemerintah pusat agar ketimpangan inovasi ini terjembatani. Selain gencar mereplikasi inovasi, perlu perubahan strategi kompetisi. Baca tulisan lain “Lebih Fair Bila…” di Otonomi Update ini.  (www.jpip.or.id)

Image:


Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh
NEWSLETTER

Daftarkan alamat email Anda di sini untuk mendapatkan berita terbaru dari Direktori JIPPJATIM