SIMPATIK ANAK CERDIK

Jum'at, 07 Desember 2018 - 01:30 WIB

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kasusnya semakin tahun semakin meningkat dan cenderung menjadi kejadian luar biasa/wabah. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes terutama Aedes aegypti. Obat untuk membasmi virus dengue belum ditemukan. Sedangkan vaksin untuk mencegahnya  sangat mahal dan hanya dapat memberikan perlindungan 60% saja.

Satu-satunya cara jitu yang paling efektif dan efisien untuk mencegah dan mengendalikan DBD adalah dengan memberantas nyamuk Aedes aegypti, membasmi jentik-jentik yang ada di tempat perindukannya.Selama ini masyarakat memiliki mindset yang keliru, mengganggap pemutusan mata rantai penularan DBD adalah dengan mengandalkan foging dari pihak kesehatan, dan pengobatan secara kuratif-rehabilitatif bagi penderita DB. Padahal pencegahan secara preventif dengan PSN dan 3Mplus lebih efektif untuk menanggulangi kasus ini.

Jumlah penderita DBD menurut Kementerian Kesehatan RI pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang di Indonesia dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44%. Pada Januari 2016 jumlah penderita DBD Jawa Timur adalah 3/590 orang. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun selama bulan Januari-Oktober 2016 telah tercatat 259 kasus DB, 5 orang diantaranya meninggal dunia. Dari 259 kasus DB tersebut, mayoritas penderitanya adalah usia anak-anak berkisar 2-23 tahun.

Berdasarkan data capaian PKP Puskesmas Klagenserut Tahun 2016 terdapat penemuan kasus DBD ditangani 12 orang (100%) 8 kasus (67%) adalah penduduk wilayah desa Klagenserut. 7 penderita (87,5%) sembuh dan 1 penderita (12,5%) meninggal dunia, dengan keterangan pasien meninggal berusia kurang dari 15 tahun.

Sementara itu, Angka Bebas Jentik (ABJ) dari hasil Penyelidikan Epidemiologi tahun 2016 yaitu 190 rumah (79%) dari 240 rumah yang diperiksa.

Belum adanya kader khusus DBD menyebabkan minimnya informasi penyakit DB dan penanggulangannya di masyarakat. Hal ini memicu rendahnya kesadaran masyarakat untuk inisiatif mencegah berkembangnya jentik sebagai pencetus mata rantai penularan penyakit.

Inovasi

Puskesmas Klagenserut ingin memberantas atau setidaknya menurunkan angka kejadian penyakit DBD di wilayah kerja Puskesmas Klagenserut. Namun, ditemuinya sejumlah kendala di masyarakat, yaitu pola pikir dari masyarakat itu sendiri yang pasif, hanya mengandalkan bantuan foging dari pihak puskesmas untuk memberantas sarang nyamuk.

Aspirasi warga Desa Klagenserut melalui MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) tahun 2016 membahas mengenai kasus DBD yang terjadi di Desa Klagenserut. Melalui minilokakarya lintas program, program inovasi untuk mengatasi penyakit DBD ini mulai diangkat sebagai tema. Selanjutnyamelalui pembahasan di minilokakarya lintas sektor, terwujudlah program inovasi “Simpatik Anak Cerdik”

Puskesmas Klagenserut melalui Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial program Surveillance, program Kesling dan program Promkes bekerja sama dengan MIN 01 Madiun yang berlokasi di Desa Klagenserut dan bantuan dari pemerintah desa Klagenserut memulai program “Simpatik Anak Cerdik” Siswa Pemantau Jentikoleh anak-anak yang cerdik agar terhindar dari Aedes Aegepty. Inovasi ini berhasil memecahkan masalah dengan salah satu indikatornya yaitu menurunnya kasus DB di Desa Klagenserut sebagai salah satu desa yang termasuk di wilayah kerja Puskesmas Klagenserut.

Program Inovasi ini menjadikan para siswa MIN 01 Madiunsebagai juru pemantau jentik kecil (jumantik kecil) di masyarakat, detail tugas difokuskan untuk siswa kelas 4,5 dan 6 untuk memantau 5 rumah di sekitarnya setiap hari Jumat. Hasil pemantauan jentik dilaporkan pada hari Senin di sekolah. Pihak sekolah berfungsi sebagai penggerak atau koordinator para siswa, serta berfungsi sebagai penghubung sistem pelaporan dari para siswa  kepada pihak puskesmas.

Tujuan diadakan program inovasi “Simpatik Anak Cerdik”  salah satunya dengan pemantauan rutin yang dilakukan oleh para siswa.Inovasi ini diharapkan dapat membangun rasa kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungannya.  Siswa juga dapat mengedukasi masyarakat yang lingkungan rumahnya kurang bersih.

Apabila terdapat rumah yang jentiknya positif pelaporan lebih cepat dilakukan dan ditanggapi oleh pihak kesehatan sehingga lebih cepat memutus mata rantai penularan atau menurunkan resiko terjangkitnya penyakit DBD. 

 

Lebih lanjut, silakan download tulisan lengkap inovasi pada halaman ini


Informasi Selengkapnya: Download PDF
Instansi : PKM Klagenserut, Kabupaten Madiun

Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh