TANI JAGO Lamongan: Membangun daulat jagung dari daerah

Rabu, 18 Juli 2018 - 08:16 WIB

Mengapa Jagung Lamongan tidak popular?

Jagung merupakan komoditi multiguna. Penggunaan jagung untuk pakan ternak mencapai 50% dari total kebutuhan. Permintaan jagung secara umum, baik untuk bahan baku industri pakan, makanan dan minuman terus meningkat 10-15% pertahun. Akibatnya, ketersediaan jagung di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan. Dengan kata lain, belum swasembada sehingga masih diperlukan impor.

Kabupaten Lamongan merupakan salah satu lumbung jagung di Jawa Timur. Namun demikian, terdapat dua masalah utama sehingga pertanian jagung Lamongan belum optimal: 1) Produktivitas yang masih rendah karena teknis budidaya mulai dari pengolahan tanah minim dan tradisional, pemupukan belum tepat anjuran (jenis, dosis dan cara pemberian), dan populasi tanaman belum optimal (jarak tanam tegel atau tanpa jarak tanam); 2) Pemanfaatan teknologi pertanian yang masih rendah sehingga terdapat senjang hasil yang lebar atas pendapatan yang diterima petani.

Inovasi apa yang kami lakukan?

Untuk mengatasi masalah di atas, Pemkab Lamongan bangkit lewat inovasi Pertanian Jagung Modern (TANI JAGO) . Sasarannya jelas, agar petani jagung berdaulat di negeri sendiri. Keyakinan Bupati Lamongan soal daulat jagung itu semakin tebal setelah melihat langsung pertanian jagung modern di Iowa, Amerika Serikat pada 2016. Lewat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, desain inovasi TANI JAGO Lamongan ini dibuat. Strateginya, dengan penggunaan benih varietas unggul adaptif, peningkatan populasi tanaman optimal per satuan luas, dan penggunaan pupuk (organik dan anorganik) berdasarkan kandungan hara tanah.

Strategi lainnya, pemberdayaan petani juga dilakukan lewat penggunaan pestisida tepat jenis, konsentrasi, volume semprot serta cara dan saat aplikasi, pengaturan pengairan (bila ada sistem pengairan), penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pada berbagai tahap proses produksi hingga pengolahan hasil panen.

TANI JAGO Lamongan merupakan aksi perbaikan tata kelola pertanian jagung. Petani diberdayakan dan diedukasi lewat pemanfaatan teknologi terbaru. Namun penggunaan teknologi ini harus sesuai dengan agro-ekologi, sosial ekonomi, dan produktif-efisien. TANI JAGO Lamongan mempunyai kelebihan dibanding pertanian jagung konvensional. Yakni, memanfaatkan semua komponen dan potensi faktor produksi budidaya jagung modern spesifik lokasi yang berimplikasi langsung pada hasil, peningkatan pendapatan petani dan efisensi produksi.

Lewat TANI JAGO, Kabupaten Lamongan berinovasi sesuai dengan karakteristik daerah yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas jagung yang merupakan tanaman rakyat.  Aspek kebaruan lain dari inovasi ini adalah pendekatan holistiknya, di mana tidak hanya berorientasi pada on farm tetapi juga off farm.

Bagaimana inovasi TANI JAGO diterapkan?

Inovasi ini dimulai pada musim tanam penghujan 2016. Diawali dengan membangun kawasan percontohan pertanian modern atau fasilitasi jagung modern (FJM) di Taman Teknologi Pertanian Desa Banyubang Kecamatan Solokuro seluas 100 hektare. Sebagai pendukung FJM, sosialisasi intensif bagi kelompok tani juga dilakukan.

Pada 2017, FJM mulai diperluas menjadi 1.200 hektare yang tersebar di 15 kecamatan. Pada tahun yang sama, untuk kali pertama dilakukan panen raya di 12 kecamatan. Hasilnya, terjadi peningkatan produktivitas atau provitas. Rata-rata provitasnya mencapai 8,3 ton per hektare.                                                                                                                                                                                                                      

Pada 2018, dilakukan pengembangan FJM di 15 kecamatan. Sehingga, total luas pertanian jagung modern sudah mencapai 1.550 hektare. Pemdampingan secara intensif kepada para petani juga terus dilakukan. Fasilitasi yang diberikan ternyata tidak sia-sia. Di 15 kecamatan tersebut, rerata provitasnya mencapai 9,40 ton per hektare. Bahkan di beberapa kawasan inti, bisa mencapai 14 ton per hektare.

Untuk melaksanakan inovasi ini, dibutuhkan pembiayaan sebesar Rp. 5.436.000.000,00. Dana berasal dari APBD tahun 2016 dan 2017. Untuk pengembangan dan pemasyarakatana lebih luas pertanian jagung modern, maka pada APBD 2018 telah dianggarkan sebesar Rp. 5.264.175.000,00.

Apa dampaknya setelah inovasi?

Setelah dua tahun lebih dilaksanakan, petani Lamongan kini bisa tersenyum. Pertama, produktivitas jagung di Lamongan meroket naik dari rata-rata 6,2 ton per hektare pada akhir tahun 2016 menjadi 8,3 ton per hektare pada akhir tahun 2017, bahkan dibeberapa daerah inti produktifitas sudah mencapai 10,6 ton per hektare.

Kedua, jumlah luas tanam di seluruh Lamongan sampai Desember 2017 sudah mencapai 68.761 hektare dari target tanam 65.250 Ha untuk periode tanam Oktober 2016 sampai September 2017 atau melonjak sebesar 105,3%.

Terakhir, pendapatan petani jagung meningkat lipat dua, dari rata-rata Rp 10.225.000 menjadi Rp 21.492.500.

Bagaimana keberlanjutan dan replikasinya?

TANI JAGO Lamongan bukanlah inovasi sesaat. Karena inovasi ini menjadi salah satu bagian dari prioritas pembangunan Kabupaten Lamongan. Inovasi yang telah terbukti mampu mendongkrak produktivitas ini akan terus diperluas cakupannya di 15 kecamatan. Bahkan, pada 2019 sudah ditetapkan target provitas sebesar 10 ton per hektare di 15 kecamatan tersebut.

Keberhasilan TANI JAGO Lamongan tidak lepas dari beberapa faktor yang mendukung keberlanjutan inovasi ini, yaitu: 1) adanya komitmen yang sangat kuat dari Bupati Lamongan; 2) masuknya TANI JAGO dalam Rencana Strategis Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Tahun 2016-2021; 3) dukungan DPRD dalam alokasi anggaran APBD untuk pengembangan TANI JAGO untuk tahun 2018 dan tahun-tahun berikutnya; 4) pentingnya kemitraan dan sinergitas lintas sektor; 5) perlunya sosialisasi dan diseminasi yang berbasis Teknologi Informasi untuk mempercepat adaptasi teknologi ke semua elemen di masyarakat khususnya petani jagung dan pemangku kebijakan di sektor tersebut.

Replikasi inovasi juga sudah dan sedang terjadi di dalam Kabupaten Lamongan. Banyak kelompok tani dari kecamatan lain di Lamongan sudah mengunjungi lokasi TANI JAGO yang tersebar di 12 kecamatan untuk belajar langsung pertanian jagung modern. Bahkan di beberapa kecamatan, para petani sudah menanam jagung di areal persawahan. Ini menjadi indikator, bagi sebagian petani menanam jagung lebih menguntungkan daripada padi.

Studi banding dan kunjungan ke areal pengembangan jagung di Lamongan sudah sering dilakukan oleh daerah lain. Mereka berasal dari kabupaten-kabupaten di Jawa maupun luar Jawa. Asalkan ada komitmen dari pimpinan daerah dan kerja keras dari jajaran dinas teknis, maka inovasi TANI JAGO ala Lamongan ini mudah untuk diterapkan.

 

Personal Kontak : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Lamongan
Instansi : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Lamongan

Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh