Intel HIV versi Pacitan

Senin, 26 Februari 2018 - 23:44 WIB
1. Apa masalah yang melatarbelakangi munculnya inovasi ini?
HIV (Human Immuno Virus) adalah virus yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan pada tubuh manusia, dan menyebabkan penyakit AIDS. Seseorang yang terinfeksi HIV akan mengalami infeksi seumur hidup. Cara penularan HIV terjadi melalui kontak seksual langsung, jarum suntik yang telah terinfeksi virus HIV, pemberian air susu Ibu (penderita HIV positif) dan donor darah.
Penularan melalui hubungan seksual dengan gonta-ganti pasangan adalah cara yang paling dominan hampir 99% dari semua cara penularan penyakit HIV di wilayah kerja UPT Puskesmas Bubakan. Jumlah penduduk yang diampu oleh Puskesmas Bubakan sebanyak 26.050 jiwa yang terdiri dari 5 (lima) desa.
Masalah yang dihadapi sampai saat ini adalah masih sulitnya mencari lapangan pekerjaan di Kabupaten Pacitan. Hal ini menyebabkan minat masyarakat masih cukup tinggi untuk merantau ke luar kota Pacitan. Tidak menutup kemungkinan mereka merupakan faktor beresiko tinggi untuk dapat tertular penyakit HIV ataupun menjadi penular penyakit HIV karena pada umumnya para perantau ini tidak membawa keluarganya (istri/suami). Hal ini didukung data penderita HIV positif yang rata-rata mereka adalah pekerja perantau di luar kota Pacitan yang tidak membawa keluarga.
Data penderita HIV/AIDS yang ditemukan mulai dari tahun 2011 sampai 2016 berjumlah 43 kasus. Kasus tertinggi pada masa usia produktif dan usia terendah pada masa usia 8 tahun. Latar belakang pendidikan penderita adalah SD/SMP yang mempunyai pekerjaan sebagai pembalak atau buruh kayu, buruh tambang emas dan kuli kasar di wilayah Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya, Surabaya, Nganjuk dan Batam.
Penemuan kasus secara dini masih sangat rendah. Kebanyakan kasus ditemukan pada tingkat stadium 3-4 atau dengan kata lain stadium AIDS yang dideteksi positif di rumah sakit. Sedangkan untuk tingkat Puskesmas, petugas hanya menunggu adanya pasien yang mengarah klinis ke penyakit HIV/AIDS. Bahkan seringkali petugas tidak jeli terhadap pasien yang datang ke Puskesmas dengan keluhan diare, sariawan, ataupun batuk-batuk.
Petugas hanya mendiagnosa sebagai penyakit biasa dan kemudian diberi obat tanpa dikonseling riwayat pasien secara mendetail sebelumnya. Sehingga diyakini pasien yang berobat tersebut tidak teridentifikasi sebagai suspek atau tersangka penyakit HIV yang seharusnya diperiksa sampel darahnya dengan cara Inform concen HIV (persetujuan dari pasien), hal ini sangat mendukung rendahnya hasil penemuan kasus HIV.
Selain rendahnya penemuan kasus HIV, ada hal yang lebih penting untuk dicermati. Beberapa hal tersebut antara lain adanya diskriminasi dan stigmatisasi baik dari masyarakat sekitar serta petugas kesehatan ketika klien ODHA atau penderita HIV berkunjung untuk berobat ke Puskesmas. Hal ini dikarenakan status klien terbongkar oleh petugas kesehatan ataupun pihak keluarga sendiri.
Selain itu pada saat prosesi pemulasaran jenazah masih ada jenazah yang dipangku oleh pihak keluarga, dan tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD), dalam hal ini mereka anggap ritual tradisi masyarakat sebagai tanda penghormatan terakhir bagi jenazah. Padahal masyarakat kurang paham bahwa setiap orang yang meninggal (ODHA) dalam beberapa jam merupakan bentuk resiko tinggi terjadinya penyakit infeksius yang dapat menularkan penyakit bagi petugas pemulasaran jenazah, baik melalui cairan ataupun luka. 

2. Siapa inisiator inovasi ini dan bagaimana inovasi berhasil memecahkan masalah yang dihadapi?

Penemuan kasus HIV sangat sulit ditemukan karena timbulnya gejala klinis mempunyai masa inkubasi 5 - 10 tahun. Hal ini menyebabkan orang yang telah terinfeksi virus HIV masih bisa beraktifitas seperti orang yang tidak mengidap penyakit HIV. Kalau dianalisa melalui kacamata kesehatan hal ini sangat mengkhawatirkan. Karena ketika seseorang yang telah terinfeksi HIV tapi belum menunjukan gejala AIDS masih berprilaku seks tidak sehat (gonta-ganti pasangan) maka akan sangat mendukung sederet kasus HIV/AIDS baru.

Kasus baru ini akan diderita baik bagi orang tidak berdosa ataupun bagi pekerja yang mempunyai resiko tinggi sebagai pekerja seks komersial, baik laki-laki maupun perempuan yang dikemudian hari tidak dapat dibendung oleh masyarakat dan tinggal kapan waktunya akan tiba. 
Intel HIV murni pemberdayaan masyarakat karena tidak dibayar oleh pemerintah. Mereka sangat peduli terhadap masalah kesehatan, sehingga program ini sangat efektif dalam penemuan kasus HIV secara dini. Rekruitmen petugas Intel HIV melalui pendekatan yang sangat intensif terhadap masyarakat baik itu perangkat Desa/kecamatan, tokoh masyarakat, petugas pemulasaran jenazah, karang taruna dan petugas kesehatan sendiri yang ada disetiap wilayah Desa.
Mereka dibekali pengetahuan tentang bagaimana cara penularan dan pencegahan penyakit HIV/AIDS serta tata cara pelaporan apabila mereka melihat atau mendengar permasalah kesehatan yang menjurus ke gejala klinis penderita HIV.
Utamanya kelompok sasaran beresiko tinggi, seperti masyarakat perantau, pekerja cafe (klub malam), bahkan masyarakat yang minta suntik/pil KB, tetapi pasangan mereka berada di perantauan. 
Sistem pelaporan Intel HIV dapat dilakukan dengan cara langsung ataupun via telp/sms apabila mereka menemukan kasus atau orang yang dianggap suspect terkena penyakit HIV, ataupun masyarakat yang mempunyai perilaku beresiko seperti pengguna Narkoba, wanita/laki-laki yang suka menggunakan jasa PSK. Informasi ini langsung disampaikan ke petugas kesehatan yang mengelola program HIV.
Setelah mendapatkan laporan dari informan, maka dilakukan investigasi data tentang seseorang yang telah dianggap mempunyai resiko terkena penyakit HIV. Suspect HIV dianjurkan untuk datang ke puskesmas oleh petugas Intel HIV, atau petugas kesehatan yang datang ke rumah pasien untuk menawarkan pemeriksaan HIV (Konseling).
Informasi ini langsung disimpan dalam data base, kemudian akan dibuat pemetaan wilayah beresiko penyakit menular yang dimasukan ke dalam program Desa Siaga melalui Pokja HIV.
Berkat kerja sama dan laporan intel HIV, terjadi peningkatan yang signifikan atas penemuan kasus HIV secara dini. Petugas selalu menjaga kerahasian klien ODHA. Penderita yang sudah terinfeksi HIV Aids akan mendapatkan konseling dan pendampingan dari petugas pengelola program HIV sampai mereka dapat membuka diri. 
 
3. Apa saja aspek kreatif dan inovatif dari inovasi ini?
Inisiatif ini kreatif, karena :
  1. Intel HIV dibentuk atas kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap fenomena yang terjadi di Kecamatan Tulakan.
  2. Penemuan kasus HIV secara dini yang signifikan, dari 7(tujuh) laporan kasus suspek HIV, 4(empat) diantaranya telah ditegakkan pasti dengan diagnosa laboratorium dan dinyatakan positif HIV
  3. Terciptanya Sistem manajemen SAVE-K3 (Kerahasiaan, Keterbukaan, Kebersamaan) bagi klien ODHA sehingga tingkat harapan hidup muncul, selain mereka mengkonsumsi obat ARV
  4. Petugas kesehatan lebih aktif melakukan penawaran pemeriksaan HIV ke masyarakat sesuai informasi yang diberikan oleh Intel HIV (lokasi khusus)
  5. Tersedianya pemetaan daerah perantau untuk mempermudah penemuan kasus/ faktor resiko
Inisiatif ini inovatif, karena :
  1. Intel HIV merupakan pelopor terbentuknya Komisi Penanggulangan AIDS Kecamatan (KPAK) di Kecamatan Tulakan.
  2. Intel HIV pertama kali ada di Indonesia untuk program pemberantasan dan pencegahan penyakit Aids.  
  3. Adanya kerjasama lintas sektor baik dari kecamatan, desa, karang taruna untuk ikut menanggulangi dan mencegah penyakit HIV/AIDS
  4. Terbentuknya Surat Keputusan Intel HIV yang berbadan hukum langsung dari pihak Kecamatan
  5. Terbentuknya PERDES tentang persamaan perlakuan pemulasaran jenazah baik bagi klien HIV ataupun masyarakat biasa
  6. Terbentuknya POKJA HIV 
  7. Adanya dukungan dana desa untuk pembelian alat pelindung diri (APD) di setiap dusun untuk Pemulasaran Jenazah. 
 
4. Bagaimana inovasi ini dilaksanakan?
Intel HIV merupakan mitra kerjasama antara pihak puskesmas dengan masyarakat yang peduli terhadap masalah penyakit HIV. Adapun rencana aksi yang telah dikembangkan dimasyarakat adalah menempatkan petugas Intel HIV di setiap titik tempat yang telah di dilakukan pemetaan wilayah berdasarkan resiko penularan penyakit melalui program Pokja HIV Desa Siaga. Selain itu juga melakukan pengembangan atau penambahan petugas Intel HIV untuk lebih mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Kronologi dan Langkah-langkah kunci inovasi Intel HIV
Kronologi dalam pengembangan inovasi Intel HIV adalah permasalahan masyarakat perantau yang komplek. Selain pulang membawa uang mereka juga membawa masalah penyakit akibat mempunyai perilaku seks yang tidak sehat. Dikarenakan kebutuhan biologis dan jauh dari pasangan sehingga mereka menggunakan jasa PSK. Disamping itu pengetahuan mereka yang sangat rendah tentang penularan penyakit HIV (testimoni dari Perantau). 
Berdasarkan kasus yang terjadi yaitu ditemukannya penderita HIV Aids di Tulakan, maka beberapa tokoh masyarakat yang peduli terhadap kesehatan dan dan aparat kecamatan, Muspika, desa, dan generasi pemuda di wilayah kerja UPT Puskesmas Bubakan menyatakan untuk komitmen bersama dalam mengatasi permasalahan penyakit HIV.
Adapun langkah-langkah kunci dalan kegiatan Intel HIV adalah
Tahapan Pertama
Adanya advokasi petugas kesehatan untuk merekrut masyarakat yang peduli terhadap penyakit HIV sehingga mereka bersedia secara sukarela untuk memberikan Informasi masalah kesehatan baik secara langsung ataupun via telp/sms.
Tahapan Kedua
Pembekalan ketrampilan dalam menginvestigasi suspek HIV baik dari ciri-ciri penderita HIV, faktor resiko, sampai pendataan masyarakat yang merantau keluar Pulau Jawa/daerah-daerah tertentu.
Tahapan Ketiga
Sistem laporan dan confidential serta pendelegasian Surat Keputusan Intel HIV, untuk sistem laporan bisa secara langsung (Intel bertemu petugas kesehatan) dan secara tidak langsung bisa lewat Telp/sms.
Tahapan Keempat
Investigasi dalam hal ini dilakukan oleh petugas kesehatan pengelola program HIV dengan teknik VCT ataupun PITC
Tahapan Kelima
Laporan dari Informan segera disimpan dan kemudian dilakukan pemetaan wilayah yang diposisikan dalam kesekretariatan Desa Siaga. Sedangkan untuk hasil pemeriksaan diarsipkan pihak puskesmas sesuai SOP.
Tahapan Keenam
Pada tahapan ini yang lebih berperan adalah petugas kesehatan untuk menciptakan rasa nyaman klien HIV yang telah dinyatakan positif. Diperlukan pendekatan, dukungan dan edukasi bagi klien HIV.
Penerapan Rencana Kerja Save K3 (Kerahasian-Keterbukaan-Kebersamaan) untuk melakukan kunjungan rumah teman HIV (Kunjungan petugas tanpa harus menggunakan atribut kedinasan) dan tetap menjaga kerahasiaan klien ODHA.
 
5. Siapa saja pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan?
Pemangku kepentingan yang terlibat dalam inovasi Intel HIV antara lain:
1. Dinas kesehatan
2. Kecamatan
3. Muspika
4. Desa (perangkat Desa)
5. Kantor Kementerian Agama (petugas Pemulasaran Jenazah)
6. Tokoh Masyarakat
7. Karang Taruna
8. Kader Desa Siaga
9. Masyarakat 
Lembaga-lembaga ini terlibat dalam pelaksanaan Intel HIV dengan kontribusi sebagai berikut:
1. Pihak kecamatan sangat antusias dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, yang dibuktikan dengan adanya pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Kecamatan (KPAK),  
2. Desa pun sangat peduli terhadap masalah penyakit HIV/AIDS, dimana desa telah menbentuk Desa Siaga Sehat Berkarya Desa Ngile, dengan salah satu pokjanya adalah terdapat POKJA HIV yang bersinergi dengan Dinas Kesehatan. Selain itu masing-masing desa telah mengalokasikan dana untuk pengadaan APD bagi Pemulasaran Jenazah.
3. Selain itu tak kalah penting adalah generasi muda yang dikemas dalam satu wadah bernama GENRE, yang dibantu oleh, BKKBN dengan salam Genrenya yaitu ”Jauhi Seks Bebas”, Jauhi Narkoba/Narkotika dan Ketahui Dampak HIV/AIDS. 
4. Kelembagaan diatas untuk mendukung tercapainya inovasi ini kita telah bekerjasama dengan media informasi yaitu Radio Joss Artaga FM 109,6 MHz yang ada disalah satu desa diwilayah Kerja UPT Puskesmas Bubakan untuk mengudara (ON AIR) setiap hari kamis dengan jargon “SEHAT BERSAMA PUSKESMAS BUBAKAN”, baik secara Dialog Interaktif ataupun Ceramah (terdokumentasi dan ada rekaman siaran ulang).
5. Semua upaya kelembagaan ini terbentuk disebabkan karena adanya laporan langsung dari masyarakat melalui Intel HIV, dan untuk kedepan akan diupayakan kerjasama dengan pihak telkom untuk mendukung laporan melalui sms gateway melalui server yang terpusat di Puskesmas.

6. Sumber daya apa saja yang digunakan untuk melaksanakan inovasi ini dan bagaimana sumber daya itu dimobilisasi? 

Sumber daya yang digunakan untuk inovasi ini bisa kita kolaborasikan dengan Desa Siaga yang sudah ada yaitu melalu Kader Pemberdayaan Masyarakat, masyarakat yang peduli Kesehatan, pihak kecamatan, Muspika/TNI/Polri, Perangkat Desa, Tokoh Masyarakat, dan generasi muda serta Petugas Kesehatan. Adapun cara mobilisasi ini melalui suatu Organisasi Desa Siaga, dimana didalam kelompok kerja Desa Siaga tersebut terdapat pengembangan Pokja HIV yang didalamnya terdapat INTEL HIV. Intel HIV ini identitas petugasnya dijaga kerahasiannya.

Sistem kerja Intel HIV mempunyai tupoksi sebagai informan ketika ada masyarakat baru datang dari perantauan kembali ke Tulakan, adanya rumor di masyarakat mengenai karyawan diskotik, WTS (Wanita Tanpa Suami) tapi wanita tersebut minta suntik KB/ Pil KB kepada ibu bidan, kemudian rumor masyarakat yang mempunyai tanda-tanda terinfeksi penyakit HIV/AIDS.

Sebelumnya menangani kasus ini Intel HIV dibekali secara detail mengenai Penyakit HIV. Pembekalan ini dimulai dari pengertian HIV/AIDS, tanda-tanda HIV, faktor resiko atau bahayanya. Kemudian petugas Intel HIV juga diyakinkan untuk lebih mengetahui cara penularan dan pencegahannya.

Untuk mewujudkan inovasi ini tidak membutuhkan dana yang besar. Pembiayaan diperlukan untuk pertemuan yang didesain di lokasi khusus (rumah Intel HIV), untuk Edukasi melalui Siaran Radio, bonus pulsa 10.000/enam bulan sekali. Sedangkan untuk kebutuhan-kebutuhan khusus seperti Alat Pelindung Diri (APD) pemulasaran jenazah, dialokasikan dari Dana Desa/ADD melalui Pemberdayaan Masyarakat. Dana tersebut juga bisa dialokasikan dari dana Desa Siaga melalui Pokja HIV.

Saat ini, semua desa yang ada di wilayah kerja UPT Puskesmas Bubakan tahun 2015-2016 semua desa telah mengalokasikan dana pengadaan APD Pemulasaran Jenazah untuk setiap dusun dan dana Kegiatan Desa Siaga.

7. Apa saja output/keluaran yang dihasilkan oleh inovasi ini?
Capaian yang telah berhasil dirasakan dari inovasi Intel HIV ini sangat signifikan setiap tahunnya, seperti pada tahun 2016 laporan dari Intel HIV sebanyak 7 tersangka yang dicurigai kearah penyakit HIV, dan dilakukan Investigasi oleh petugas kesehatan terdapat 4(empat) orang positif HIV.
(dapat dilihat pada tabel dalam lampiran)
Atas informasi yang diberikan oleh Intel HIV maka deteksi dini terhadap penderita dapat diketahui. Hal ini mencegah penularan kepada orang yang tidak bersalah (suami/istri bahkan anak yang disusui ibu penderita HIV).
 
8. Sistem apa yang diterapkan untuk memantau kemajuan dan mengevaluasi kegiatan dalam inovasi ini?
Sistem monitoring dan evaluasi dalam kegiatan Intel HIV
Keberhasilan program yang dijalankan memang diperlukan suatu monitoring dan evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui sejauh manakah keefektifan dan keberhasilan adanya Intel HIV diwilayah kerja UPT Puskesmas Bubakan, yaitu melalui monitoring:
1. Adanya laporan bulan dari petugas Intel HIV
2. Peningkatan penemuan kasus yang sangat signifikan
3. Terekapnya Informasi masalah kesehatan khususnya penyakit HIV
4. Adanya data masyarakat yang mempunyai faktor resiko tinggi / perantau
5. Tersedianya pemetaan wilayah berbasis surveilans Desa Siaga
6. Adanya dukungan pihak kecamatan yang telah melegalitas kegiatan Intel HIV melalui SK kecamatan dibawah naungan Komisi Penanggulangan Aids Kecamatan (KPAK) dan SOP Intel HIV
7. Adanya sumbangsi dana desa untuk membantu pengadaan alat pelindung diri bagi petugas pemulasaran jenazah
Selama ini system monitoring dan evaluasi yang sudah ada di Intel HIV yaitu ada alur kerja Intel HIV, tersedianya buku bantu Intel HIV yang berisikan data-data perantau, mulai dari alamat asal sampai tujuan perantauan, adanya Tim Reaksi Cepat (TRC), tersedianya pemetaan wilayah faktor resiko, adanya laporan Informen baik secara lisan ataupun via telpon/sms ketika diketahui adanya rumor suspek HIV, Komitmen Intel HIV, dan evaluasi yang paling penting adalah tingginya penemuan kasus HIV secara Dini di UPT. Puskesmas Bubakan.
 
9. Apa saja kendala utama yang dihadapi dalam pelaksanaan inovasi dan bagaimana kendala tersebut diatasi?
Kendala utama yang dihadapi dalam Intel HIV adalah keingintahuan petugas Intel HIV untuk mengetahui siapa orang yang telah dinyatakan secara diagnose positif HIV oleh petugas kesehatan atau pemegang program HIV. Mereka masih menduga dan penasaran apakah laporan Intel HIV yang diterima oleh pengelola program HIV tersebut benar-benar positif HIV. 
Solusi yang diberikan atas keingintahuan ini, petugas pengelola HIV di Puskesmas Bubakan memberikan pengertian yang sedalam-dalamnya bahwa tugas dari Intel HIV adalah memberikan informasi kepada petugas pengelola HIV tentang kondisi masyarakat yang dicurigai. Selain itu juga diberikan pengertian bahwa kondisi pasien apapun adalah merupakan tanggung jawab petugas kesehatan untuk merahasiakan, sesuai dengan kode etik dan profesi.
Kendala lainnya yang juga berpengaruh besar adalah keamanan petugas atau dalam hal ini Intel HIV dari tuntuan hukum untuk melaporkan terduga kasus HIV kepada puskesmas atau pengelola HIV. Kondisi ini disikapi dengan adanya payung hukum dari Camat Tulakan dan Kepala UPT Puskesmas Bubakan. Saat ini sedang diusahakan mendapatkan payung hukum dari Bupati.
Kendala lain dari masyarakat adalah rasa ingin tahu mereka ketika terdapat kasus rahasia penderita HIV bocor. Mereka segera mencari tahu kebenaran berita tersebut. Kemudian stigma dari masyarakat muncul untuk mengucilkan penderita dan bahkan keluarganya. Mereka takut tertular penyakit HIV Aids. Hal inilah yang dapat memicu kondisi penderita menjadi lebih buruk lagi.
Kondisi ini disikapi dengan penjelasan secara tegas bahwa penularan HIV Aids hanya bisa melalui hubungan seksual, suntikan jarum yang terkontaminsasi virus HIV, transfusi darah, dan ASI seorang ibu penderita HIV.
Kemudian masyarakat juga diberikan penjelasan agar tidak mengucilkan penderita atau bahkan keluarganya. Berikan pengertian bahwa jika penderita tersebut diketahui oleh orang lain, sedangkan mentalnya belum siap maka penderita akan tertekan bahkan bisa bunuh diri. Kemudian jika penderita merasa dendam, maka dia akan berusaha menularkan penyakitnya kepada orang lain tanpa sepengetahuan masyarakat lingkungannya.
 
10. Apa saja manfaat utama yang dihasilkan dari inovasi ini?
Manfaat utama INTEL HIV adalah penemuan kasus HIV secara dini, sehingga pengobatan, pencegahan, dan infeksi oportunistik dapat diminimalisir. Hal ini berdampak pada peningkatan harapan hidup teman HIV lebih tinggi.
Kemudian adanya pemberdayaan masyarakat yang peduli dengan kesehatan terutama masalah penyakit HIV/AIDS melalui INTEL HIV. Akibatnya tersedia informasi yang lebih cepat di masyarakat karena teman Intel HIV langsung melaporkan kejadian yang ada dilingkungan mereka, baik melalui lisan datang langsung ataupun via telepon.
Mengetahui info secara pasti apakah ada stigma di masyarakat, kalau teman HIV yang telah MANDIRI dan siap untuk membuka status dirinya sebagai Penderita HIV/AIDS, karena Save K3 (Kerahasian-Keterbukaan-Kebersamaan) bisa di monitoring oleh Intel HIV.
Intel HIV berhasil membuat perubahan dalam penyelenggaraan pelayanan Publik seperti contoh Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Ke Anak (PPIA). Pasien Ibu hamil tri semester pertama didiagnosa reaktif / Positif HIV sehingga pengobatan dan pencegahan penularan dari Ibu ke anak dapat dihindari. Penemuan kasus ini secara dini karena adanya laporan dari Intel HIV (Bidan Desa). 
Kemudian adanya Laporan Intel HIV mengenai pemulasaran Jenazah yang masih dipangku, atau belum menggunakan APD. Dari informasi ini maka terbitlah kebijakan Desa Untuk mengeluarkan Perdes No 2 Tahun 2013 tentang penggunaan Alat Pelindung Diri Saat melakukan Pemulasaran Jenazah. Sampai saat ini semua jenazah tidak ada lagi yang dipangku saat pemulasaran. 
Penemuan Kasus HIV secara Dini dapat meningkatkan harapan Hidup bagi Penderita.
Selain itu terwujudnya dukungan dan partisipasi pemerintah desa dan kecamatan yaitu dengan membentuk Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kecamatan (KPAK).
Perbaikan pelayanan publik berdampak positif dimasyarakat karena Intel HIV memberikan informasi yang realita dimasyarakat dan dari informasi ini maka dilakukan reaksi cepat dimasyarakat sehingga pencegahan penularan dan pengobatan lebih cepat ditangani.
Dampak positif yang dapat diukur dengan adanya Intel HIV adalah dari hasil informasi Intel HIV penemuan kasusnya bisa HIV secara dini lebih meningkat (data terlampir dicapaian hasil), tersedianya data yang valid untuk kegiatan rencana kerja Intel HIV, terkosentrasinya masyarakat yang mempunyai faktor resiko tinggi melalui pemetaan. Pengetahuan masyarakat mengenai penyakit HIV/AIDS semakin meningkat
Pemberdayaan penderita HIV di bidang ekonomi melalui kerjasama dengan pihak ketiga.
Dampak lainnya adalah destigmatisasi untuk penderita HIV dalam kehidupan bermasyarakat di seluruh wilayah Puskesmas Bubakan, sehingga penderita dan keluarganya dapat hidup dengan damai.
 
11. Apa bedanya sebelum dan sesudah inovasi?
Perbedaan sebelum dan sesudah adanya intel HIIV
1. Sebelum adanya Intel HIV belum ada data dan pemetaan yang terkonsentrasi, yang ada hanya pemetaan monografi desa. Setelah adanya Intel HIV untuk pemetaan mulai terkonsentrasi sehingga dapat dimonitoring masyarakatnya yang mempunyai faktor resiko lebih tinggi

2. Sebelum adanya Intel HIV, tidak adanya laporan atau informasi mengenai masalah kesehatan khususnya penyakit HIV. Setelah adanya Intel HIV Penemuan kasus HIV secara dini lebih tinggi (data terlampir di capaian hasil kerja), karena permasalahan dimasyarakat, masyarakatlah yang lebih tahu dan memahami, sedangkan kita petugas kesehatan hanya menunggu kedatangan pasien yang akan berobat ke Puskesmas, itupun terkadang petugas kurang peka terhadap pasien-pasien yang mempunyai tanda-tanda HIV (Stadium 3-4). Jadi mereka hanya mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan biasa. (kecuali Ibu hamil, karena mereka terprogram di T10 yaitu salah satunya adalah konseling penawaran untuk dilakukan test HIV)

3. Sebelum adanya Intel HIV pengetahuan masyarakat mengenai penyakit HIV/AIDS sangat rendah. Setelah adanya Intel HIV pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai penyakit HIV/AIDS lebih mengerti apa itu HIV/AIDS, cara penularan dan pencegahannya, serta berani untuk memeriksakan diri untuk test HIV.

4. Sebelum adanya Intel HIV, perlakuan pemulasaran jenazah masih dibedakan antara penderita HV/AIDS atau bukan ODHA. Pemulasaran jenazah juga belum ada yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Setelah adanya Intel HIV, terbit Perdes Nomor 2 tahun 2013 tentang pemulasaran Jenazah dan penggunakan Alat Pelindung Diri (APD), sehingga terdapat perlakuan yang sama untuk pemulasaran jenazah.

5. Sebelum adanya Intel HIV, belum terbentuknya system manajemen kasus HIV/ Layanan Komprehensip Bekelanjutan (LKB). Setelah adanya Intel HIV terbentuk Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kecamatan yang memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap penanganan kasus HIV Aids. 
 
12. Apa saja pembelajaran yang dapat dipetik dari penerapan inovasi ini?
Pembelajaran yang dapat dipetik dari Penerapan Intel HIV yaitu adanya pemberdayaan masyarakat yang peduli dengan masalah kesehatan khususnya penyakit HIV. Selain itu terbentuknya jalinan yang baik antara masyarakat, dinas kesehatan, RSUD, kecamatan, Desa, bahkan Lintas Sektor yang ada di kecamatan Tulakan dan Kabupaten. 
Adanya metode pembelajaran untuk mengatasi masalah sosial yang timbul dilapangan, khususnya Stigma dimasyarakat. Metode yang dipakai dalam berkolaborasi dengan petugas Intel HIV dilingkungan mereka. Yang paling berkesan adalah kita turut senang ketika seorang penderita HIV ditemukan secara dini dari hasil kerja Informan yang ada dilapangan. Dengan penemuan kasus secara dini maka pengobatan, perawatan, dan edukasi dpat lebih dimaksimalkan untuk mempertahan dan meningkatkan harapan Hidup pasien HIV/AIDS. 
Rekomendasi bagi unit kerja yang akan mereplikasi metode Intel HIV ini adalah Save K3 (Kerahasiaan-Keterbukaan-Kebersamaan). Dengan menggunakan prinsip SAVE K3 maka masyarakat akan lebih pintar mengatasi permasalahan kesehatan mereka secara mandiri. Pelibatan masyarakat sangat mendukung keberhasilan program ini. Dari Masyarakat Untuk Masyarakat.  
13. Apakah inovasi ini berkelanjutan dan sedang atau sudah direplikasi di tempat lain?
Intel HIV telah diterapkan di beberapa Desa terutama di wilayah Desa yang mobilitas masyarakatnya tinggi diluar kota (Perantau). Kalau untuk di daerah perkotaan, Intel HIV dapat di aplikasikan dengan sumber daya manusia melalui pejabat RW/RT atau petugas pemulasaran Jenazah

Intel HIV didukung pendanaannya dari dana CSR CV WAHYU DJUMADI MALANG yang disalurkan melalui Pokja HIV di Desa Siaga Sehat Berkarya Desa Ngile. Dukungan dana juga dilakukan oleh masing-masing desa melalui APBDesa untuk pengadan alat pelindung diri (APD) pemulasaran jenazah, termasuk jenazah penderita HIV.

Dukungan regulasi dan kelembagaan yang ada saat ini adalah untuk tingkat kecamatan, yaitu dengan adanya SK Camat tentang Komisi Penanggulangan Aids Kecamatan Tulakan.
Selain itu juga melibatkan beberapa elemen masyarakat yang secara sukarela berperan dalam upaya deteksi dini, penjaringan kasus dan pendampingan serta pemberdayaan penderita HIV sehingga upaya destigmatisasi dapat tercapai.
Untuk replikasi direncanakan semua puskesmas wilayah kabupaten Pacitan yang langsung dimotori Dinas Kesehatan melalui program P2. Dan telah di paparkan secara rinci melalui pertemuan lintas sektor tingkat Kabupaten. Untuk tingkat Kabupaten yang telah meminta blue print atau sistem kerja Intel HIV yaitu Kabupaten Ponorogo.
Dukungan teknologi informasi untuk promosi program Intel HIV dilakukan melalui website dari Pemerintah Desa Ngile, yaitu SIP.desa siaga ngile. Sedangkan upaya promosi lainnya adalah melalui dialog interaktif bersama dengan radio lokal.
 
Sumber: Database KOVABLIK Jatim 2017

Kategori: Kesehatan
Personal Kontak : dr. Rini Endrawati
Instansi : Puskesmas Bubakan



Komentar:
img

coa

24/04/2018 - 20:54

fgsd


Didukung oleh