Go Home

Selasa, 19 Desember 2017 - 00:57 WIB
Siswa-siswa SDN 05 Madiun Lor
1. Apa masalah yang melatarbelakangi munculnya inovasi ini?
Pendidikan karakter sebagai komponen terpenting dalam proses pembelajaran. Salah satu indikatornya adalah disiplin, yaitu indikator untuk mentaati tata tertib sekolah, termasuk di dalamnya tertib untuk tidak membawa handphone selama di sekolah.
Namun, implementasi peraturan tidak membawa handphone memunculkan kelemahan yaitu siswa-siswi tidak dapat menghubungi orang tua ketika ada barang yang tertinggal terkait keperluan sekolah dan ketika adanya perubahan waktu pulang sekolah. Sehingga menjadi kendala dalam pembelajaran dan ketidaknyamanan bagi siswa-siswi, terlebih dengan maraknya isu penculikan anak.  
SDN 05 Madiun Lor sempat menyediakan fasilitas telepon kantor yang dapat digunakan secara gratis. Sayangnya, fasilitas ini hanya dapat digunakan untuk menelepon nomor telepon rumah. Disamping itu mayoritas orang tua murid SDN 05 Madiun Lor mempunyai mobilitas. Apabila siswa-siswi hendak menelepon nomor HP orang tua, mereka harus pergi ke wartel dan membayar biaya telepon yang mahal, dimana biaya telepon termurah adalah sebesar Rp 700,- per enam detik. Apalagi eksistensi telepon rumah semakin menghilang, sedangkan eksistensi gadget berkembang pesat.
Hal tersebutlah yang membuat solusi sekolah dirasa kurang dapat menyelesaikan masalah yang ada dan justru memunculkan masalah baru, yaitu pelanggaran siswa-siswi yang membawa handphone di sekolah demi dapat menghubungi orang tua. 
Hal tersebut tercatat dalam Jurnal Harian Siswa-Siswi sebagai Buku Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial. Hasil rekapan dari seluruh Jurnal Harian Siswa-siswi pada tahun 2015, tersaji data (dalam kurun waktu satu tahun) sebagai berikut :
a. Sebanyak 35% dari total 444 siswa-siswi tercatat melakukan pelanggaran tidak membawa perlengkapan sekolah seperti buku paket, buku tulis, hasil karya, mukena, sarung, dan seragam. Sebagai contoh, Alzacky kelas 2B pada 24 Agustus 2015 lupa tidak membawa sticky note sebagai bahan untuk Ulangan Harian Bahasa Inggris aspek listening. Akibatnya, Alzacky tidak mendapat nilai aspek listening dan hanya mendapat nilai aspek speaking, reading, dan writing.
b. Sebanyak 3,8% dari total 444 siswa-siswi tercatat menunggu jemputan orang tua di sekolah karena orang tua tidak mengetahui perubahan jadwal pulang. Sebagai contoh, Cindy kelas 3A lupa memberitahu pada hari Senin tanggal 19 Oktober 2015 ekstrakurikuler menari ditiadakan karena pelatih menari menghadiri diklat. Akibatnya, Cindy harus menunggu jemputan orang tua selama 60 menit karena uang saku untuk telfon di wartel sudah habis.
c. Sebanyak 2,4% dari total 444 orang tua murid tercatat menunggu putra-putrinya di sekolah karena orang tua tidak mengetahui perubahan jadwal pulang. Sebagai contoh, ayah dari Kevin kelas 5A pada hari Kamis 12 November 2015 harus menunggu putranya selesai mendapat tambahan pelajaran dari wali kelas karena Kevin lupa tidak memberitahu orang tua akan adanya tambahan pelajaran pada hari Kamis. Akibatnya, ayah Kevin marah karena di waktu yang bersamaan beliau harus menghadiri acara penting kantor.
d. Sebanyak 1,1% dari total 444 siswa-siswi tercatat melanggar peraturan sekolah dengan membawa handphone di sekolah dengan alasan untuk menghubungi orang tuanya. Sebagai contoh, Ayesha kelas 4B pada hari Selasa 21 April 2015 tercatat membawa handphone di sekolah. Akibatnya, Ayesha mendapat teguran dari wali kelas karena melanggar peraturan sekolah dan mendapat sanksi penyitaan handphone untuk kemudian diambil orang tua.
Sehingga dapat disimpulkan, kelompok sosial yang mendapat dampak negatif dari munculnya beberapa permasalahan adalah siswa-siswi, orang tua murid, dan guru.
2. Siapa inisiator inovasi ini dan bagaimana inovasi berhasil memecahkan masalah yang dihadapi?
a. Inisiator Inovasi
Ide inovasi dengan pemanfaatan teknologi sebagai pengganti penggunaan handphone selama di sekolah diinisiatori oleh Bapak Joko Susilo, S.Pd.,M.Si selaku Kepala SDN 05 Madiun Lor, sedangkan Aplikasi Go Homediinisiatori oleh Bapak Andi Prasetyo. Perpaduan ide inovatif ini berawal dari pemikiran untuk menemukan alat yang cara kerjanya seperti handphone namun sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi di sekolah, sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran serta penggunaannya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi siswa-siswi, guru, dan orang tua murid.
Penemuan inovasi ini melalui beberapa rapat koordinasi yang dihadiri Kepala SDN 05 Madiun Lor, bapak/ibu guru pemangku kepentingan, ketua komite dan perwakilan paguyuban wali murid. Berikut adalah jadwal dan agenda rapat:
1) Rapat koordinasi pertama, pada hari Kamis tanggal 19 November 2015 pada pukul 10.00 WIB di ruang PKGSDN 05 Madiun Lor dengan agenda perumusan masalah, pelaksanaan studi kasus dan penyusunan ide inovasi sebagai solusi
2) Rapat koordinasi kedua, pada hari Kamis tanggal 26 November 2015 pada pukul 10.00 WIB di ruang PKGSDN 05 Madiun Lor dengan agenda penyusunan rencana anggaran dan sarana prasarana
3) Rapat koordinasi ketiga, pada hari Senin tanggal 7 Desember 2015 pada pukul 13.00 WIB di ruang TIK SDN 05 Madiun Lor dengan agenda penyusunan pemangku kepentingan dan perizinan kepada pihak Dinas Pendidikan Kota Madiun
4) Rapat koordinasi keempat, pada hari Sabtu tanggal 12 Desember 2015 pada pukul 10.00 WIB di ruang PKG SDN 05 Madiun Lor dengan agenda implementasi inovasi
b. Proses inovasi berhasil memecahkan masalah
Aplikasi Go Homeadalah mesin aplikasi yang memungkinkan siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor mengirim pesan singkat kepada nomor HP orang tua terkait keperluan yang ingin mereka sampaikan tanpa perlu pergi ke wartel dan membayar biaya yang mahal. Mesin aplikasi ini dipasang di samping kantor guru sehingga sangat dekat dan mudah dijangkau siswa-siswi, tanpa harus pergi keluar sekolah yang penuh dengan resiko terlebih di saat maraknya isu penculikan saat ini. Selain itu, untuk dapat mengoperasikan mesin aplikasi ini, siswa-siswi hanya perlu mengeluarkan biaya 500 rupiah untuk satu kali transaksi, yangmana biaya ini jauh lebih murah dan terjangkau untuk siswa-siswi dibandingkan biaya menelepon nomer HP orang tua melalui wartel yang tarifnya relatif sangat mahal dan berdasarkan lama durasi menelepon. 

c. Strategi yang digunakan
Strategi untuk membuat siswa-siswi menggunakan Aplikasi Go Homeini adalah melalui sosialisasi kepada seluruh siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor dan pemberitahuan kepada orang tua murid secara menyeluruh. Pertama, pihak sekolah mengumpulkan seluruh siswa-siswi di aula sekolah. Kemudian, bapak/ibu guru menjelaskan Aplikasi Go Homebeserta manfaat dan kelebihan Aplikasi Go Home,cara mendaftar, cara pengoperasian, cara kerja, serta cara pengisian pulsa. Ketiga, bapak/ibu guru membagikan blangko pendaftaran kartu Aplikasi Go Homedan surat pemberitahuan kepada orang tua murid terkait adanya inovasi, serta meminta siswa-siswi untuk mengkonsultasikan terlebih dahulu kepada orang tua masing-masing terkait izin pembuatan kartu Aplikasi Go Home.Dua hari setelah sosialisasi, bapak/ibu guru wali kelas meminta konfirmasi dari siswa-siswi terkait perizinan orang tua murid dalam penggunaan Aplikasi Go Home.

d. Tujuan utama
Tujuan utama pengimplementasian Aplikasi Go Homedi SDN 05 Madiun Lor ini adalah sebagai solusi terbaik untuk mengatasi kekurangoptimalan bahkan tersendatnya komunikasi dari siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor ke orang tua murid tentang keperluan mereka terkait urusan sekolah selama siswa-siswi berada di lingkungan sekolah.  

e. Kelompok sasaran
Kelompok sasaran dari pengimplementasian Aplikasi Go Homeini adalah siswa-siswi dan orang tua murid SDN 05 Madiun Lor. Pengimplementasian Aplikasi Go Homeini mengoptimalkan komunikasi dari siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor ke orang tua murid tentang keperluan mereka terkait urusan sekolah selama siswa-siswi berada di lingkungan sekolah. Sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan lancar, serta membuat siswa-siswi, guru juga orang tua murid merasa aman dan nyaman.
3. Apa saja aspek kreatif dan inovatif dari inovasi ini?
a. Keunikan inovasi
Aplikasi Go Homeini merupakan inovasi yang unik, karena:
1) merupakan alat komunikasi baru yang lebih tepat fungsi dan sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi selama di sekolah
2) cepat dan mudah digunakan
3) bertarif relatif murah sehingga sesuai dengan uang saku siswa-siswi
4) memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung kelancaran dan kenyamanan proses belajar mengajar
5) mampu menyelesaikan masalah yang muncul tanpa melanggar peraturan sekolah
6) mengurangi dampak negatif penggunaan teknologi informasi seperti handphone
7) mengurangi resiko penculikan dan kejahatan terhadap anak
8) menciptakan rasa aman dan nyaman bagi siswa-siswi, guru, dan orang tua murid 

b. Proses inovasi berhasil memecahkan masalah dengan cara-cara baru dan berbeda
Inovasi pelayanan publik aplikasi Go Home ini merupakan inovasi baru dan berbeda, karena inovasi ini dapat menggeser penggunaan handphone ketika di lingkungan sekolah, namun mempunyai manfaat sesuai kebutuhan siswa-siswi dalam menggantikan fungsi handphone selama di sekolah. Sehingga inovasi ini merupakan solusiyang inovatif.

c. Pendekatan kreatif dan inovatif yang membuat inovasi berhasil
Pendekatan inovatif yang membuat inovasi ini berhasil adalah dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sehingga lebih relevan terhadap kondisi di era globalisasi saat ini, serta efektif dan efisien untuk digunakan.
4. Bagaimana inovasi ini dilaksanakan?
Tahapan pelaksanaan inovasi Go Home :
a. Perumusan masalah
Perumusan masalah merupakan agenda pembahasan dalam rapat koordinasi pertama pada tanggal 19 November 2015. Dalam perumusan masalah, kepala sekolah, guru pemangku kepentingan, ketua komite, serta perwakilan paguyuban orang tua murid menyusun permasalahan yang muncul untuk kemudian diidentifikasi.
b. Pelaksanaan studi kasus
Pelaksanaan studi kasus dilakukan pada rapat koordinasi pertama, dimana kuorum rapat mengidentifikasi masalah yang muncul. Ini terkait sebab dan solusi permasalahan tersebut.
c. Penyusunan ide inovasi
Masih dalam rapat koordinasi pertama, kuorum rapat mulai menyusun ide inovasi sebagai solusi konkret. Kemudian tercetuslah ide inovatif dari Bapak Joko Susilo, S.Pd.,M.Si selaku kepala SDN 05 Madiun Lor untuk membuat sebuah program aplikasi yang mempunyai manfaat sesuai kebutuhan siswa-siswi selama di sekolah, yang dinamakan aplikasi Go Home . Hingga pihak SDN 05 Madiun Lor mendapat penawaran dari Bapak Andi Prasetyo untuk bekerjasama. Beliau bersedia dan menyanggupi untuk membantu SDN 05 Madiun Lor dalam membuat program aplikasi.
 
d. Penyusunan rencana anggaran dan sarana prasarana
Selanjutnya pada rapat koordinasi kedua tanggal 26 November 2015, disusunlah rencana anggaran dan sarana prasarana dari Aplikasi Go Home. Adapun rencana anggaran Aplikasi Go Home adalah sebagai berikut:
1) Pembelian komponen mesin dan pembelian kartu Aplikasi Go Home sebesar empat juta rupiah (Rp 4.000.000,-)
2) Pemrogramman mesin Aplikasi Go Home sebesar tiga juta rupiah (Rp 3.000.000,-)
Total anggaran biaya untuk pemrogramman dan pembuatan Aplikasi Go Home adalah sebesar tujuh juta rupiah (Rp 7.000.000,-) yang dialokasikan dari dana APBD. 

e. Pengajuan anggaran
Setelah program perencanaan pembuatan Aplikasi Go Home lengkap, pihak SDN 05 Madiun Lor mengajukan permohonan persetujuan kebijakan dan permohonan persetujuan anggaran dana kepada pihak Dinas Pendidikan Kota Madiun. Anggaran dialokasikan pada tahun 2016 untuk pembuaatan aplikasinya.
f. Pemrogramman dan pembuatan Aplikasi dan kartu Go Home
Proses pemrograman dan pembuatan Aplikasi Go Home ini memerlukan waktu enam bulan setelah pencairan dana, yaitu sejak Maret hingga September 2016.
g. Pengimplementasian Aplikasi dan kartu Go Home
Diawali dengan diselenggarakannya sosialisasi Aplikasi Go Home kepada murid dan orang tua murid, yaitu pada hari Selasa 8 November 2016. Sejak bulan November 2016 telah mulai dilaksanakan, tetapi terdapat kendala yang muncul. Pemasangan mesin aplikasi yang terlalu tinggi untuk diraih siswa-siswi dan data yang terinput dalam kartu Go Home ada yang tidak terbaca oleh mesin aplikasi. Sehingga memerlukan perbaikan selama beberapa minggu. Hingga pada tanggal 3 Januari 2017 Aplikasi Go Home kembalidiimplementasikan di SDN 05 Madiun Lor dengan baik dan lancar. 
Berikut adalah prosedur untuk membuat kartu Go Home guna dapat mengoperasikan Aplikasi Go Home:
1) Siswa-siswi meminta formulir pendaftaran kepada guru pelaksana
2) Siswa-siswi mengisi formulir pendaftaran dengan data diri
3) Guru pelaksana menerima formulir pendaftaran yang sudah diisi siswa-siswi
4) Petugas koperasi sekolah menghubungi pihak programmer Aplikasi Go Home untuk mengambil formulir dan menindaklanjuti
5) Programmer Aplikasi Go Home menginput dan memproses data siswa-siswi untuk kemudian dibuatkan kartu anggota Go Home sekaligus sebagai kartu pengoperasian Go Home 
6) Programmer Aplikasi Go Home memberikan kartu Go Home siswa-siswi yang telah terdaftar kepada guru pelaksana
7) Guru pelaksana membagikan kartu Go Home kepada siswa-siswi 
8) Siswa-siswi dapat mengoperasikan aplikasi Go Home dengan menggunakan kartu anggota yang dimiliki, dengan cara :
a) Siswa-siswi menekan tanda bulat sebagai tanda akan mengoperasikan mesin aplikasi Go Home
b) Siswa-siswi menggesekkan kartu anggota ke mesin aplikasi
c) Setelah menampilkan identitas siswa-siswi, maka siswa-siswi memasukkan password masing-masing dengan menekan tombol
d) Siswa-siswi memilih jenis pesan atau keperluan dalam mengoperasikan aplikasi Go Home, dengan menekan tepat pada jenis pesan yang dipilih.
e) Siswa-siswi menekan pilihan orang tua yang ingin dihubungi
h. Pengawasan, pengelolaan, pemeliharaan, dan pemeriksaan secara berkala terhadap Aplikasi Go Home. 
5. Siapa saja pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan?
Pemangku kepentingan dalam pengimplementasian inovasi pelayanan publik berupa Aplikasi Go Home adalah: 
a. Dinas Pendidikan Kota Madiun
Dalam pembuatan dan pengimplementasian Aplikasi Go Home, Dinas Pendidikan Kota Madiun bertindak sebagai pendukung kebijakan dan anggaran.
b. Kepala Sekolah SDN 05 Madiun Lor
Kepala Sekolah SDN 05 Madiun Lor Bapak Joko Susilo, S.Pd., M.Si, berperan sebagai penanggung jawab dan inisiator. Inisiator bertugas membuat ide dan konsep teknologi inovasi. Ide atau gagasan ini bermula dari beberapa masalah yang telah diketahui kurang optimalnya komunikasi dari siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor ke orang tua murid di sekolah akibat diterapkannya peraturan sekolah tentang tidak diperbolehkannya siswa-siswi membawa handphone selama proses belajar mengajar. Sedangkan penanggung jawab bertugas untuk memberikan tanggung jawab penuh atas perubahan kebijakan, serta pengontrol jalannya aplikasi ini.
c. Programmer 
Programmer yang juga sekaligus sebagai inisiator dalam aplikasi ini adalah Bapak Andi Prasetyo. Programmeradalah orang yang paling berperan di balik pembuatan dan pemrogramman.
d. Siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor 
Siswa-siswi berperan sebagai pengguna langsung aplikasi Go Homeyang terkait dengan masalah yang muncul di lingkungan sekolah. Kita ketahui munculnya aplikasi ini dikarenakan masalah yang muncul yakni sekolah tidak memperbolehkan siswa-siswi membawa handphone yang mengakibatkan kekurangoptimalan komunikasi dari siswa-siswi ke orang tua murid.
e. Guru Pelaksana
Guru yang terlibat langsung dalam proses pegimplementasian Aplikasi Go Home adalah :
1) Ibu Indah Patmawati, M.Pd, selaku bendahara pembelian dan pemrogramman mesin Aplikasi Go Home
2) Ibu Siti Kunainah,S.Pd, yang berperan sebagai mediator antara siswa-siswi atau orang tua murid ke programmer, dan sebaliknya.
3) Ibu Kunti Retno, S.S, yang berperan sebagai petugas pengisian pulsa
4) Ibu Ocvita Sari Pribadi, S.Pd dan Ibu Anggun Taruna, S.Pd, yang berperan sebagai evaluator 
f. Orang Tua Murid SDN 05 Madiun Lor 
Orang tua murid dalam aplikasi Go Home ini sangat berperan penting sebagai subyek yang dituju dalam pengoperasian Aplikasi Go Home.
6. Sumber daya apa saja yang digunakan untuk melaksanakan inovasi ini dan bagaimana sumber daya itu dimobilisasi? 
a. Alokasi dana
Alokasi dana dalam pemrogramman dan pembelian inovasi ini adalah sebesar tujuh juta sampai tujuh juta lima ratus rupiah (Rp 7 juta – 7,5 juta). Alokasi dana tersebut digunakan untuk :
1) Pembelian komponen mesin dan pembelian kartu Aplikasi Go Home sebesar empat juta rupiah (Rp 4.000.000,-)
2) Pemrogramman mesin dan pembuatan kartu Aplikasi Go Home sebesar tiga juta rupiah (Rp 3.000.000,-)
3) Pembelian dan pembuatan kartu anggota Aplikasi Go Home sebesar sepuluh ribu rupiah (Rp 10.000,-)
4) Pembelian isi ulang pulsa sebesar lima ribu rupiah (Rp 5.000,-) untuk sepuluh kali transaksi (10x) dan sepuluh ribu rupiah (Rp 10.000,-) untuk dua puluh kali transaksi (20x)
b. Teknologi
Teknologi dalam inovasi pelayanan publik Aplikasi Go Homeini adalah berupa mesin aplikasi, program aplikasi, kartu aplikasi, dan pulsa kartu aplikasi.
c. Sumber daya manusia
1) Dinas Pendidikan Kota Madiun sebagai pendukung kebijakan dan anggaran
2) Bapak Joko Susilo, S.Pd,. M.Si sebagai inisiator ide inovasi dan penanggung jawab 
3) Bapak Andi Prasetyo sebagai programmer mesin Aplikasi Go Home dan kartu aplikasi
4) Siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor sebagai pengguna mesin Aplikasi Go Home. Pelatihan penggunaan mesin Aplikasi Go Home dilaksanakan pada saat sosialisasi. Selain itu penyedia menyiapkan video petunjuk penggunaan aplikasi Go Home sehingga dapat dipergunakan sekolah sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
5) Orang tua murid sebagai subyek yang dituju dalam pengoperasian aplikasi
6) Ibu Indah Patmawati, M.Pd sebagai bendahara 
7) Ibu Siti Kunainah, S.Pd sebagai guru pelaksana 
8) Ibu Kunti Retno, S.S sebagai petugas pengisian pulsa 
9) Ibu Ocvita Sari Pribadi, S.Pd dan Ibu Anggun Taruna, S.Pd sebagai evaluator 
d. Skema pembiayaan
Dalam skema pembiayaan di atas, dapat dijelaskan bahwa bendahara bertugas menyusun anggaran pembiayaan yang kemudian diserahkan kepada kepala sekolah. Ketika kepala sekolah menyetujui anggaran pembiayaan tersebut, maka pihak sekolah mengajukan permohonan persetujuan bantuan anggaran kepada Dinas Pendidikan. Apabila pihak Dinas Pendidikan menyetujui, maka pencairan uang dapat diberikan kepada kepala sekolah untuk kemudian diserahkan kepada bendahara guna keperluan pembelanjaan anggaran sesuai rencana anggaran.
e. Sumber dana 
Dalam pembuatan dan pemrogramman Aplikasi Go Home, sumber dana dan rincian dana adalah sebagai berikut :
1) APBD yaitu sebesar tujuh juta rupiah (Rp 7.000.000,-) untuk :
a) Pembelian komponen mesin
b) Pembelian kartu 
c) Pemrogramman mesin
d) Pembuatan kartu 
2) Siswa-siswi yaitu untuk pembelian dan pembuatan kartu anggota Aplikasi Go Home sebesar sepuluh ribu rupiah (Rp 10.000,-) serta untuk pembelian pulsa dengan rincian sebesar lima ribu rupiah (Rp 5.000,-) untuk sepuluh kali transaksi (10x) dan sepuluh ribu rupiah (Rp 10.000,-) untuk dua puluh kali transaksi (20x).
7. Apa saja output/keluaran yang dihasilkan oleh inovasi ini?
Pengimplementasian inovasi pelayanan publik berupa Aplikasi Go Home ini menghasilkan output, yaitu:
a. Satu unit mesin Aplikasi Go Home
Mesin aplikasi ini yang menjadi server sekaligus media dalam mengoperasikan aplikasi. Mesin Aplikasi Go Homedipasang di samping kantor guru SDN 05 Madiun Lor, sehingga dekat dan mudah dijangkau siswa-siswi, tanpa harus pergi keluar sekolah yang penuh dengan resiko terlebih di saat maraknya isu penculikan saat ini.
b. 333 buah kartu Aplikasi Go Home
333 buah kartu ini merupakan kartu anggota sekaligus kartu yang digunakan untuk melakukan transaksi pengoperasian mesin Aplikasi Go Home. Kartu Go Homeini sudah terinput data identitas diri siswa-siswi beserta password sebagai kata kunci rahasia untuk menggunakan kartunya.  
c. 333 siswa-siswi yang menggunakan Aplikasi Go Home
Sampai saat ini ada 333 siswa-siswi yang sudah menggunakan Aplikasi Go Home dari total 444 siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor, yaitu ada sebesar 75% siswa-siswi pengguna inovasi pelayanan publik ini di SDN 05 Madiun Lor. Jumlah siswa-siswi yang tertarik untuk mendaftar dan menggunakan Aplikasi Go Home selalu meningkat setiap bulannya, hal ini menunjukkan bahwaantusias siswa-siswi dan orang tua murid terhadap inovasi Aplikasi Go Home ini sangat tinggi.
d. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan pulsa
Dalam pengimplementasian Aplikasi Go Home, siswa-siswi harus mempunyai kartu Go Home yang kemudian digunakan untuk mengoperasikan mesin aplikasi. Satu hal yang harus diperhatikan siswa-siswi adalah apakah kartu Go Home yang mereka miliki masih berisi pulsa atau tidak. Seperti yang dijelaskan di bagian-bagian sebelumnya bahwa untuk dapat melakukan satu kali transaksi pengoperasian aplikasi, maka siswa-siswi setidaknya mempunya pulsa kartu sebesar lima ratus rupiah. Maka apabila siswa-siswi mendapati bahwa pulsa kartu Go Home milik mereka telah habis, mereka dapat mengisi pulsa terlebih dahulu kepada petugas pengisian pulsa di sekolah, yaitu Ibu Kunti Retno, SS. Semakin banyak melakukan transaksi pengoperasian mesin Aplikasi Go Home, berarti secara tidak langsung siswa-siswi juga akan sering mengisi pulsa.
Pendapatan yang diperoleh pihak SDN 05 Madiun Lor dari penjualan dan pengisian pulsa kartu Go Home siswa-siswi adalah sebesar 10%, yangmana keseluruhan pendapatan sekolah ini akan masuk ke dalam pemasukan koperasi siswa yang selanjutnya pendapatan iniakan dikembalikan kepada siswa-siswi berupa alat tulis sekolah seperti buku tulis, buku gambar, bolpoin, penggaris, penghapus, dan spidol. Pengembalian berupa alat tulis ini dibagikan kepada siswa-siswi ketika siswa-siswi berada di kelas 6, tepatnya setelah siswa-siswi melaksanakan ujian akhir.
8. Sistem apa yang diterapkan untuk memantau kemajuan dan mengevaluasi kegiatan dalam inovasi ini?
Sistem yang digunakan SDN 05 Madiun Lor untuk memantau kemajuan dan mengevaluasi kegiatan dalam inovasi pelayanan publik ini adalah melalui survei yang berupa lembar kuesioner. Survei tersebut terkait kepuasan pengguna inovasi yang dalam hal ini adalah siswa-siswi dan orang tua murid terhadap pelayanan Aplikasi Go Home yang dibuat pihak sekolah. Petugas yang berperan dalam proses survei, evaluasi dan perbaikan pelayanan ini disebut sebagai evaluator. Adapun petugas evaluator SDN 05 Madiun Lor terkait pengimplementasian dan pengoperasian Aplikasi Go Home adalah Ibu Ocvita Sari Pribadi, S.Pd dan Ibu Anggun Taruna, S.Pd. Survei berupa pembagian lembar kuesioner ini dilaksanakan setiap 6 bulan sekali dengan respondennya adalah:
a. Siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor, sebanyak 45 siswa dari 333 siswa pemakai aplikasi Go Home
b. Orang tua murid SDN 05 Madiun Lor, sebanyak 45 orang tua dari 333 orang tua siswa pemakai Go Home
Kuesioner survey kepuasan terhadap inovasi pelayanan Go Homemenanyakan kepada responden tentang :
1) Keefektifan sosialisasi tentang inovasi Go Home
Pihak sekolah dapat mengevaluasi tentang cara sosialisasinya, apakah perlu lebih intensif atau sudah sesuai dengan yang diharapkan. 
2) Kepuasan siswa-siswi dan orang tua terhadap inovasi pelayanan Go Home
Pihak sekolah dapat mengetahui sejauh mana manfaat yang dapat dirasakan oleh siswa-siswi dan orang tuanya terhadap inovasi pelayanan Go Home.
3) Kecakapan petugas Go Homedalam hal ini adalah guru yang bertugas menangani pendaftaran kartu Go Home
Pihak sekolah dapat mengetahui kompetensi dan keramahan petugas yang ditunjuk, sehingga dapat membantu menentukan perlu dan tidaknya penggantian petugas tersebut.
4) Pendapat responden jika terjadi kesalahan dalam proses penggunaan aplikasi Go Home. Sejauh mana pengaduan segera ditindaklanjuti.
5) Kenyamanan atau kemudahan sarana aplikasi Go Home
Pihak sekolah dapat mengetahui alat yang digunakan apakah benar-benar sudah ramah anak, dalam artian mudah digunakan oleh anak usia 7 -12 tahun dan tidak berbahaya. 
Dari hasil survei tersebut, pihak sekolah akan menganalisa aspek apa saja yang menurut responden kurang baik dan aspek yang sudah baik. Selanjutnya hasil analisa tersebut dapat menjadi bahan masukan bagi perbaikan inovasi pelayanan Go Home.
9. Apa saja kendala utama yang dihadapi dalam pelaksanaan inovasi dan bagaimana kendala tersebut diatasi?
Kendala yang yang pernah terjadi dalam pengimplementasian Aplikasi Go Home adalah :
a. Komponen mesin yang berfungsi untuk tempat menggesekkan kartu Go Home terlalu tinggi untuk diraih siswa-siswi yang berpostur tubuh sedang (tidak terlalu tinggi)
b. Data yang terinput dalam kartu Go Home belum lengkap dikarenakan penyetoran data siswa-siswi tidak dalam satu waktu, sehingga mengakibatkan data-data tersebut tidak terbaca oleh mesin aplikasi
c. Terdapat beberapa siswa-siswi yang masih merasa bingung prosedur pendaftaran anggota Go Home dan prosedur pengisian pulsa isi ulang Go Home dikarenakan, pada waktu sosialisasi siswa-siswi tersebut tidak masuk sekolah.
Solusi dari kendala-kendala di atas adalah :
a. Pihak sekolah melaporkan kepada pihak programmer atas kendala point a. Kemudian pihak programmer memperbaiki komponen mesin yaitu dengan membuat mesin aplikasi dapat digesek dari arah bawah maupun atas.
b. Pihak sekolah kembali mengumpulkan data siswa-siswi untuk kemudian disetorkan kepada programmer. Selanjutnya programmer kembali menginput data siswa-siswi.
c. Pihak sekolah melalui bapak/ibu guru wali kelas kembali melakukan sosialisasi terkait Aplikasi Go Home.
10. Apa saja manfaat utama yang dihasilkan dari inovasi ini?
a. Manfaat dari inovasi
Setelah adanya pengimplementasian Aplikasi Go Home, siswa-siswi merasa lebih nyaman dan aman untuk menghubungi orang tua / wali murid apabila ada pesan atau keperluan yang bersifat mendesak untuk disampaikan kepada orang tua. Begitu juga masyarakat yang dalam hal ini adalah orang tua / wali murid. Orang tua siswa-siswi merasa sangat terbantu karena segera mendapat informasi penting mendesak terkait putra-putri mereka, terlebih tanpa harus keluar sekolah juga tanpa harus membayar mahal. Dapat disimpulkan, manfaat pengimplementasian aplikasi ini adalah :
1) Komunikasi siswa-siswi dengan orang tua lancar dan optimal
2) Barang atau keperluan siswa-siswi yang tertinggal dapat dengan cepat diantar ke sekolah
3) Siswa-siswi dijemput orang tua sesuai waktu pulang sekolah
4) Orang tua menjemput siswa-siswi sesuai waktu pulang sekolah
5) Siswa-siswi lebih berhemat karena tarif Go Home relatif murah
6) Proses belajar mengajar tidak terganggu
7) Resiko penculikan dan kejahatan terhadap anak (siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor) berkurang
8) Berkurangnya angka pelanggaran terhadap peraturan sekolah tentang tidak diperbolehkannya siswa-siswi membawa handphone selama di sekolah
9) Siswa-siswi, guru, dan orang tua murid merasa aman dan nyaman.

b. Proses pengukuran dampak positif
Dampak positif adanya inovasi berkaitan erat dengan jumlah peminat dan pengguna Aplikasi Go Home. Berikut adalah jumlah pengguna Aplikasi Go Home sejak Januari sampai Agustus 2017:
Kenaikan yang signifikan ditunjukan dari peminat penggunaGo Home dibulan Januari yang awalnya hanya 15 siswa naik secara perlahan di bulan kemudian. Hal ini juga dirasakan di bulan Februari pendaftar Aplikasi Go Home naik mencapai 50 siswa. Selanjutnya juga ditunjukan dibulan Maret dengan banyaknya peminat pengguna kartu Go Home karena pengimplementasiannya yang mudah. Kenaikan dibulan maret mencapai 104 siswa pengguna Aplikasi Go Home. Di bulan April tak kalah menarik, sejumlah 171 siswa sudah mulai memakai aplikasi Go Home untuk mempermudah siswa ketika di sekolah. Sedangkan dibulan Mei terdapat 255 siswa yang telah memakai aplikasi Go Home. Kenaikan itu juga diikuti hingga sekarang, sampai bulan Agustus jumlah pendaftar mencapai 333 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa antusias siswa-siswi dan orang tua murid terhadap inovasi Aplikasi Go Home sangat tinggi. 
Proses pengukuran dampak positif adanya inovasi pelayanan publik berupa Aplikasi Go Home di SDN 05 Madiun Lor ini melalui analisis grafik sebagai hasil dari blanko atau form survei berupa lembar kuesioner yang dibuat pihak sekolah. Adapun petugas evaluator SDN 05 Madiun Lor terkait pengimplementasian dan pengoperasian Aplikasi Go Home adalah Ibu Ocvita Sari Pribadi, S.Pd dan Ibu Anggun Taruna, S.Pd. Survei berupa pembagian lembar kuesioner ini dilaksanakan setiap 6 bulan sekali dengan respondennya adalah siswa-siswi dan orang tua murid selaku pengguna Aplikasi Go Home.
Dari grafik diatas dapat kita lihat kepuasan siswa terhadap aplikasi Go Home cukup tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil rekapan kuesioner terkait kepuasan siswa-siswi tentang pelaksanaan sosialisasi yang mendapatkan nilai 3,82 dari nilai maksimal 4. Di sisi lain, pelayanan Go Home untuk siswa-siswi mendapatkan nilai rata-rata 3,18. Sedangkan pelayanan dalam pembuatan kartu Go Home juga cukup tinggi dengan mendapatkan nilai rata-rata 3,84. Selain itu kepuasan pengguna Go Home khususnya siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor mengenai pelayanan pengaduan cukup baik karena nilai rata-rata kepuasan siswa mencapai 3,18. Selain itu sarana prasarana yang digunakan dalam pengimplementasian AplikasiGo Home dapat dibuktikan dari hasil surveiAplikasi Go Home pada siswa-siswi pengguna Aplikasi Go Homeyaitu mendapatkan nilai 3,80. Dari uraian diatas dapatdisimpulkan bahwa kepuasan siswa mengenai pelayanan dan pengimplementasian Aplikasi Go Home mencapai 9144.44% dan bermutu A atau sangat baik.
Dari grafik diatas dapat kita lihat kepuasan orang tua terhadap pengimplementasian Aplikasi Go Home cukup baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan sosialisasi yang di lakakukan di SDN 05 Madiun Lor mendapat sambutan baik dengan mendapatkan nilai 3,87 dari nilai maksimal 4. Sedangkan pelayanan Go Home untuk orang tua mendapatkan nilai 3,89. Sedangkan pelayanan dalam pembuatan kartu Go Home juga baik dengan mendapatkan nilai 3,73. Selain itu kepuasan pengguna Go Home khususnya orang tua untuk pelayanan pengaduan cukup baik karena nilai rata-rata kepuasan orang tua mencapai 3,40. Selain itu sarana, prsarana yang digunakan Go Home sampai saat ini baik di mata orang tua. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil surveiGo Home pada orang tua murid pemakai Aplikasi Go Home. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kepuasan orang tua mengenai Aplikasi Go Home mencapai 9355.56% dan bermutu A atau sangat baik.
11. Apa bedanya sebelum dan sesudah inovasi?
a. Perbedaan sebelum dan sesudah inovasi
Sebelum adanya pengimplementasian Aplikasi Go Homebanyak masalah komunikasi yang muncul dalam lingkungan sekolah. Dua diantaranya adalah:
1) ketika adanya barang atau keperluan siswa-siswi yang tertinggal di rumah, seperti buku paket, buku tulis, hasil karya, mukena, sarung, dan seragam. Hal ini mengakibatkan siswa/siswi yang lalai tersebut mendapat teguran dan sanksi dari bapak/ibu guru yang bersangkutan. 
2) ketika adanya perubahan waktu pulang sekolah, yaitu ketika waktu pulang sekolah menjadi lebih awal atau menjadi lebih lama dari waktu semestinya. Hal ini mengakibatkan siswa-siswi, orang tua maupun guru mendapat dampak negatifnya karena harus menunggu. 
Berikut adalah contoh dampak negatifnya:
1. Jika ada perlengkapan sekolah siswa siswi yang tertinggal
a. Bagi siswa siswi yang lalai
- akan mendapat sanksi 
- tidak mendapat nilai jika terkait dengan pekerjaan rumah
- tidak dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan nyaman karena merasa gelisah dan tidak percaya diri
b. Bagi siswa siswi yang mempunyai teman sekelas lalai maka akan kehilangan beberapa menit waktunya untuk menerima materi pelajaran karena bapak/ibu guru harus menegur dan menertibkan siswa/siswi yang lalai
c. Bapak/ibu guru pengajar akan kehilangan beberapa menit waktunya untuk mengajar demi menegur dan menertibkan siswa/siswi yang tidak membawa perlengkapan.
2. Jika ada perubahan waktu atau jam pulang sekolah
a. siswa siswi harus menunggu jemputan cukup lama ketika waktu pulang sekolah lebih awal
b. orang tua siswa siswi harus menunggu putra-putrinya cukup lama ketika waktu pulang sekolah lebih lama, padahal mungkin di waktu yang bersamaan, mereka mempunyai kepentingan lain
c. bapak/ibu guru 
- Bapak/ibu guru harus menunggu siswa-siswi yang belum dijemput
- Bapak/ibu guru menerima keluhan dari orang tua murid terkait perubahan waktu pulang sekolah, meskipun informasi tentang perubahan waktu sudah diumumkan kepada siswa-siswi

Setelah adanya inovasi, perbedaan ke arah positif sangat jelas terlihat. Permasalahan yang muncul sebelum adanya inovasi, terselesaikan secara baik dan signifikan. Hal ini dapat kita ketahui dari Jurnal Harian Siswa-Siswi sebagai Buku Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial. Hasil rekapan dari seluruh Jurnal Harian Siswa-siswi pada tahun 2015 dan 2017, tersaji data sebagai berikut : 
1. Sebelum Inovasi (Tahun 2015) : Sebanyak 35% dari total 444 siswa-siswi tercatat melakukan pelanggaran dengan tidak membawa perlengkapan sekolah seperti buku paket, buku tulis, hasil karya, mukena, sarung, dan seragam. Sesudah inovasi (tahun 2017) : Sebanyak 5,4% dari total 444 siswa-siswi tercatat melakukan pelanggaran dengan tidak membawa perlengkapan sekolah seperti buku paket, buku tulis, hasil karya, mukena, sarung, dan seragam.
2. Sebelum Inovasi (Tahun 2015) : Sebanyak 3,8% dari total 444 siswa-siswi tercatat menunggu jemputan orang tua di sekolah karena orang tua tidak mengetahui waktu pulang sekolah putra-putrinya lebih awal dari waktu semestinya. Sesudah inovasi (tahun 2017) : Sebanyak 1,1% dari total 444 siswa-siswi tercatat menunggu jemputan orang tua di sekolah karena orang tua tidak mengetahui waktu pulang sekolah putra-putrinya lebih awal dari waktu semestinya.
3. Sebelum Inovasi (Tahun 2015) : Sebanyak 2,4% dari total 444 orang tua murid tercatat menunggu putra-putrinya di sekolah karena orang tua tidak mengetahui waktu pulang sekolah putra-putrinya lebih lama dari waktu semestinya. Sesudah inovasi (tahun 2017) : Sebanyak 1,1% dari total 444 orang tua murid tercatat menunggu putra-putrinya di sekolah karena orang tua tidak mengetahui waktu pulang sekolah putra-putrinya lebih lama dari waktu semestinya.
4. Sebelum Inovasi (Tahun 2015) : Sebanyak 1,1% dari total 444 siswa-siswi tercatat melanggar peraturan sekolah dengan membawa handphone di sekolah demi dapat menghubungi orang tua terkait keperluan sekolah dan informasi mendesak. Sesudah inovasi (tahun 2017) : Sebanyak 0,22% dari total 444 siswa-siswi tercatat melanggar peraturan sekolah dengan membawa handphone di sekolah demi dapat menghubungi orang tua terkait keperluan sekolah dan informasi mendesak.

Dari data-data yang tersaji di atas, dapat disimpulkan bahwa inovasi pelayanan publik berupa Aplikasi Go Home ini secara baik dan signifikan dapat menyelesaikan masalah yang muncul. Dengan kata lain, Aplikasi Go Home dapat disebut sebagai inovasi terinovatif dan terbaik saat ini untuk memperbaiki bahkan mengatasi kekurangoptimalan bahkan tersendatnya komunikasi dari siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor ke orang tua murid tentang keperluan mereka terkait urusan sekolah selama siswa-siswi berada di lingkungan sekolah, sebagai akibat atas diterapkannya peraturan sekolah tentang tidakdiperbolehkannya siswa-siswi membawa handphone di sekolah. 
 
12. Apa saja pembelajaran yang dapat dipetik dari penerapan inovasi ini?
SDN 05 Madiun Lor atau yang lebih dikenal dengan sebutan SDN Endrakila adalah instansi pendidikan yang senantiasa mempunyai kesadaran dan kebutuhan untuk bertumbuh dan memperbaiki diri. Pertumbuhan dan perbaikan diri di sini baik tentang perbaikan kurikulum dalam pembelajaran akademik maupun non akademik, teknis dalam proses belajar mengajar, kecukupan dan kelengkapan sarana prasarana, hingga pelayanan publik demi mendukung kelancaran dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar.
Kesadaran dan kebutuhan untuk bertumbuh dan memperbaiki diri itu didasarkan pada hasil evaluasi setiap di komponen dan kegiatan. Evaluasi di sini berdasarkan hasil pengamatan dan studi lapangan yang dilakukan oleh para stakeholder sekolah seperti kepala sekolah, bapak/ibu guru, komite, paguyuban orang tua murid, siswa-siswi, serta pengawas dan penilik sekolah. 
Proses mengajarkan bagaimana kita berusaha dan berupaya demi mencapai tujuan yang diikuti dengan melihat, menilai, mengevaluasi juga memperbaiki segala sesuatu yang telah terjadi. Sehingga hal-hal negatif yang ada, tidak lagi kita ulangi atau gunakan. Di sisi lain, senantiasa ada hal-hal positif baru yang dapat kita ambil dan kita lakukan demi mencapai tujuan yang lebih baik.
Berdasar dari itulah SDN 05 Madiun Lor atau yang lebih dikenal dengan sebutan SDN Endrakila sampai sekarang masih difavoritkan dan diunggulkan. Hal ini terbukti melalui antusias dan kepercayaan masyarakat yang dengan mantap secara konsisten mempercayakan buah hati kepada SDN 05 Madiun Lor. Anggapan tersebut sepertinya tidak berlebihan karena SDN Endrakila juga secara konsisten meraih berbagai prestasi di bidang akademik maupun non akademik. Melalui salah satu moto terbaik Masterpiece is Endrakila’s Priority, yang berarti bahwa karya agung adalah prioritas SDN Endrakila, maka para stakeholder SDN Endrakila dengan upaya keras, kesungguhan dan komitmen kuat, sifat tidak mudah putus asa serta terbuka terhadap perubahan senantiasa menciptakan karya agung sebagai persembahan kepada masyarakat.
Dari pengimplementasian Aplikasi Go Home ini,pelajaran yang dapat diambil adalah komunikasi yang lancar dan optimal akan turut memberi kelancaran terhadap segala sesuatunya. Terlebih komunikasi yang aman dan nyaman bagi siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor yang terkait dengan keperluan atau kebutuhan sekolah, karena hal ini sangat mendukung kelancaran dan kesuksesan setiap kegiatan di SDN 05 Madiun Lor, khususnya kegiatan dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya itu, apabila semua kegiatan berjalan lancar dan sukses, maka setiap tujuan yang telah ditetapkan di awal sebelum pelaksanaan kegiatan juga dapat dicapai. 
Pencapaian tujuan di setiap kegiatan inilah yang menjadi parameter dan tolok ukur kesuksesan kegiatan. Termasuk dalam pengimplementasian inovasi pelayanan publik yang tergolong baru dan inovatif berupa Aplikasi Go Home ini. Setiap proses kegiatan senantiasa dievaluasi yang disertai dengan perbaikan terhadap segala kekurangan ataupun kendala baik terkait teknis maupun praktiknya. Hingga saat ini SDN 05 Madiun Lor dengan bangga mempersembahkan Aplikasi Go Home sebagai solusi terinovatif dan terbaik untuk mengatasi dan menyelesaikan kekurangoptimalan bahkan tersendatnya komunikasi dari siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor ke orang tua murid tentang keperluan mereka terkait urusan sekolah selama siswa-siswi berada di lingkungan sekolah, sebagai akibat atas diterapkannya peraturan sekolah tentang tidak diperbolehkannya siswa-siswi membawa handphone di sekolah.
13. Apakah inovasi ini berkelanjutan dan sedang atau sudah direplikasi di tempat lain?
Inovasi pelayanan publik berupa Aplikasi Go Home yang diinisiatori oleh Bapak Joko Susilo, S.Pd.,M.Si, merupakan inovasi yang diimplementasikan di SDN 05 Madiun Lor sejak Selasa, 15 November 2016. Keberlanjutan pengimplementasian dari Aplikasi Go Home ini adalah terkait eksistensi Aplikasi Go Home, pengembangan terhadap program aplikasi, serta pengembangan terhadap ruang lingkup pengimplementasian inovasi Aplikasi Go Home.
a. Eksistensi Aplikasi Go Home
Aplikasi Go Home akan terus diimplementasikan atau digunakan di SDN 05 Madiun Lor selama aplikasi ini masih menjadi solusi terbaik dari permasalahan awal yang timbul, yaitu kekurangoptimalan bahkan tersendatnya komunikasi dari siswa-siswi SDN 05 Madiun Lor ke orang tua murid tentang keperluan mereka terkait keperluan ataupun urusan sekolah selama siswa-siswi berada di lingkungan sekolah, sebagai akibat atas diterapkannya peraturan sekolah tentang tidakdiperbolehkannya siswa-siswi membawa handphone di sekolah.

b. Pengembangan terhadap program aplikasi Go Home
1) Pengembangan terhadap Program Aplikasi
a) Handle telepon
Rencana ke depan, SDN 05 Madiun Lor akan mengembangkan program aplikasi Go Home dengan merancang handle telepon yang dapat digunakan siswa-siswi untuk melakukan dan menerima panggilan ke dan dari orang tua.
b) Alat pemberitahuan panggilan
Rencana ke depan, SDN 05 Madiun Lor juga akan mengembangkan program aplikasi Go Home dengan merancang semacam pin atau bross yang disematkan siswa-siswi di pakaian mereka. Pin atau bross ini berfungsi untuk menangkap sinyal telepon dan memberitahukannya lewat suara dering dan lampu pada pin atau bross langsung kepada siswa/siswi yang mendapat panggilan telepon dari orang tua mereka. Kemudian, siswa/siswi tersebut menuju ke mesin aplikasi untuk mengangkat handle telepon guna dapat berkomunikasi dengan orang tua. Pin atau bross ini sebagai perangkat pelengkap dari pengembangan atau perancangan handle telepon. 
c) Program broadcast 
Rencana ketiga, SDN 05 Madiun Lor juga akan mengembangkan program aplikasi Go Home dengan merancang program broadcast yang memungkinkan bapak/ibu guru mengirim pesan sekaligus kepada semua orang tua murid dalam satu kali kirim. Program ini emudahkan penyampaian informasi atau pengumuman insidental bersifat urgent, tanpa harus membuat satu per satu siswa-siswi melakukan transaksi pengiriman pesan singkatkepada orang tua. Sehingga lebih menghemat waktu dan tenaga.

c. Pengembangan terhadap ruang lingkup pengimplementasian inovasi
Pengimplementasian Aplikasi Go Home dapat diimplementasikan di instansi lain baik sesama instansi sekolah maupun lintas instansi, dengan program yang disesuaikan dengan keperluan dan kebutuhan masing-masing instansi pengguna Aplikasi Go Home. Misalnya apabila akan diimplementasikan di sekolah menengah pertama (SMP) maka menu pilihan dalam kotak dialog aplikasi dapat diubah, ditambah atau diganti dengan menu pilihan yang sesuai dengan keperluan atau kebutuhan siswa-siswi SMP. 
Kategori: Pendidikan
Personal Kontak : OCVITA SARI PRIBADI, S.Pd.
Telepon : (0351) 454585
Instansi : SDN 05 MADIUN LOR (DINAS PENDIDIKAN KOTA MADIUN)



Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh