Blood_Jek Si Pengawal Nyawa

Senin, 13 November 2017 - 22:20 WIB
Bupati Lumajang M As'ad
1. Apa masalah yang melatarbelakangi munculnya inovasi ini?
Terdapat kendala pada pelaksanaan transfusi darah di Kabupaten Lumajang. Terutama pada proses permintaan dan pendistribusian darah. Masalahnya antara lain :
  • Diperlukan waktu 3 jam untuk mendapatkan darah yang dibutuhkan, karena darah ini dipesan dan dibawa sendiri oleh keluarga pasien dari PMI ke rumah sakit, akibat kendala sarana transportasi keluarga pasien, terutama saat malam hari.
  • Seringkali darah rusak saat tiba dirumah sakit sehinggga tidak memberikan jaminan kualitas darah, suhu tidak terkontrol, alat dan cara distribusi yang tidak sesuai dengan standar pelayanan darah.
Kondisi seperti ini sangat merugikan pasien karena kadar Hemoglobin pasien tidak meningkat yang menyebabkan proses penyembuhan semakin lama dan menambah beban biaya pengobatan pasien. Apabila pendistribusian darah terlambat maka dapat menyebakan kematian pada pasien. UTD sering menerima komplain dari Rumah Sakit yang sudah bekerja sama terkait keamanan dan kecepatan pendistribusian darah.
Layanan distribusi darah selama ini kurang efektif dan efisien, sehingga darah yang ditransfusikan belum terjamin keamanannya, kecepatan dan ketepatan. Hal tersebut memberikan dampak buruk pada rumah sakit dimata pasien, keluarga pasien dan masyarakat umum dimana tugas rumah sakit seharusnya memberikan solusi kesembuhan pasien namun pada kenyataannya justru berbanding terbalik. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan darah di UTD PMI Kabupaten Lumajang kurang baik.
Darah dan produk darah memegang peranan penting dalam pelayanan kesehatan. Ketersediaan, keamanan dan kemudahan akses terhadap darah dan produk darah harus dapat dijamin. hal tersebut sesuai dengan World Health Assembly (WHA) 63.12 on Availability, safety and quality of blood products, bahwa kemampuan untuk mencukupi sendiri kebutuhannya atas darah dan produk darah (self sufficiency in the supply of blood and blood products) serta jaminan keamanannya merupakan salah satu tujuan penting pelayanan kesehatan nasional. 
Upaya pengamanan darah dan pendistribusian darah dilaksanakan di setiap tahap mulai dari pengerahan dan pelestarian pendonor, pengambilan dan pelabelan darah pendonor, pencegahan penularan penyakit, pengolahan, penyimpanan dan pemusnahan darah, pendistribusian, penyaluran dan penyerahan darah, serta tindakan medis pemberian darah kepada pasien. Berdasarkan PMK No. 91 Tahun 2015 tentang standart pelayanan darah menyatakan bahwa darah yang distribusikan harus bebas dari sedikitnya empat penyakit menular (HIV, HBsAg, HCV, dan Siphilis) dan sudah diuji konfirmasi golongan darah ABO dan Rhesus.
Pendistribusian darah harus tetap mempertahankan rantai dingin darah sesuai dengan jenis komponennya, menggunakan alat distribusi yang suhunya tervalidasi, terkontrol oleh petugas yang kompeten. Pendistribusian darah yaitu penyampaian darah siap pakai untuk keperluan transfusi dari Unit Transfusi Darah (UTD) ke Rumah Sakit (RS) melalui Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) atau institusi kesehatan yang berwenang. Dari 6 RS yang ada di Kab. Lumajang, hanya RSUD dr. Haryoto Lumajang yang memiliki BDRS, namun waktu pelayanannya terbatas. 
2. Siapa inisiator inovasi ini dan bagaimana inovasi berhasil memecahkan masalah yang dihadapi?
“Blood_Jek” Si Pengawal Nyawa UTD PMI Kabupaten Lumajang hadir untuk menjawab masalah yang ada. Blood_Jek adalah sistem layanan yang dirancang khusus menjamin kualitas darah, memudahkan permintaan darah oleh keluarga pasien serta mendukung sistem layanan RS agar tetap berjalan optimal. Sistem layanan Blood_Jek yang digunakan adalah “permintaan langsung antar” maksudnya, keluarga pasien yang melakukan permintaan darah dengan membawa formulir permintaan dan sampel darah hanya menyelesaikan administrasi di UTD PMI. Pemenuhan permintaan darah pasien langsung diproses, dan darah siap diantar sendiri oleh petugas UTD yang berkompeten langsung ke ruang tempat pasien dirawat. Layanan ini dibuka 24 jam, untuk Rumah Sakit di Wilayah Lumajang Kota. 
Sarana Layanan Blood_Jek menggunakan kendaraan roda dua dilengkapi dengan box besar di bagian belakang 45 liter, dapat diisi dua coolbox kecil sebagai tempat penyimpanan darah. Masing-masing coolbox dilengkapi thermometer digital untuk mengontrol suhu simpan darah sesuai dengan jenis produk darah yang dibawa. Formulir kontrol suhu darah selama perjalanan ke rumah sakit selalu tersedia di coolbox.
Blood_Jek tidak seketika langsung hadir tetapi melalui proses yang panjang. Diawali dengan banyaknya komplain dari Rumah sakit yang ditujukan kepada UTD PMI Kabupaten Lumajang sehingga motivasi untuk menyelesaikan masalah ini sesuai dengan tugas dan fungsi yang ada. Pada saat kepemimpinan dr. Heru Sumartoyo (Ka. UTD PMI Tahun 2001-2011), tahun 2011 muncul gagasan baru yakni darah diantar langsung oleh petugas UTD PMI tanpa sistem dan sarana layanan yang memadai. Sehingga banyak kekurangan yang terjadi. Semenjak kepemimpinan dr. Halimi Maksum.,MMRS (Ka. UTD PMI Tahun 2012 sampai dengan sekarang) mulai tahun 2012 itulah kekurangan ini berusaha untuk untuk disempurnakan dengan menggunakan strategi sebagai berikut :
  1. Menambah tenaga khusus pengantar darah yang berkompeten. Untuk mengoptimalkan pelayanan darah, perlu dilakukan penambahan tenaga khusus pengantar darah yang sesuai dengan kompetensinya, bekerja sesuai jadwal yang dibuat dan terdapat 3 shift setiap hari. Sebelumnya, petugas pengantar darah di UTD PMI Kabupaten Lumajang adalah petugas loket sekaligus merangkap sebagai petugas kebersihan.
  2. Menyiapkan desain khusus sepeda motor untuk kebutuhan pengantar darah. Desain khusus sepeda motor untuk pengantar darah ini dilengkapi dengan box besar yang berisi 2 coolbox dan masing-masing coolbox dilengkapi dengan thermometer sebagai kontrol suhu penyimpanan darah. Penggunaan coolbox ini sesuai dengan spesifikasi penggunaannya. Sebelum coolbox digunakan, coolbox ini di validasi dan dikualifikasi oleh Kalibrator. Tujuannya agar petugas pengantar darah dapat mengontrol dan menjaga suhu sesuai dengan suhu simpan darah dengan berpedoman pada besar kecilnya volume darah yang dibawa, jumlah ice pack yang digunakan dan lama waktu tiba di Rumah Sakit. Sasaran utama kegiatan ini agar darah sampai di RS dalam kondisi baik untuk membantu meningkatkan kadar Hb pasien (Haemoglobin). 
  3. Membuat Standart Operasional Prosedur layanan antar darah. Standart operasional prosedur (SOP) pengantar darah mutlak harus dibuat sebelum sistem dijalankan. SOP berisi langkah-langkah dan ketentuan yang harus dilakukan oleh petugas pengantar darah ketika melakukan tugasnya. Termasuk tentang perlakuan darah dari UTD sampai ke perawat ruang pasien dirawat, dan dijalankan oleh seluruh petugas pengantar darah. Tujuan utama agar petugas konsisten dalam menjalankan prosedur pengantar darah, sehingga sasaran mutu unit distribusi darah dapat tercapai. 
3. Apa saja aspek kreatif dan inovatif dari inovasi ini?
Inovasi ini kreatif dan inovatif karena:
a. Satu-satunya di Indonesia
Dari 212 UTD di Indonesia, hanya UTD PMI Kabupaten Lumajang yang telah memberikan pelayanan Blood_Jek. Pada umumnya UTD di Indonesia masih menggunakan cara konvensional dalam mendistribusikan darah dengan cara dibawa langsung oleh keluarga pasien atau petugas Rumah Sakit tanpa memperhatikan suhu dalam proses pendistribusian darah. cara yang salah dan tidak tepat beresiko mengurangi kualitas darah. Blood_Jek melayani 24 jam, tanpa dipungut biaya apapun.
b. Adanya kejelasan identitas petugas pengantar darah 
Blood_Jek sebagai sarana pengantar darah mudah dikenal oleh masyarakat. Petugas pengantar darah selalu menggunakan kendaraan roda dua dilengkapi jaket, rompi, dan helm beridentitas khusus pengantar darah, sehingga masyarakat akan memberikan kesempatan terlebih dahulu bilamana terdapat kemacetan lalu lintas 
c. Adanya kelengkapan sarana yaitu sepeda motor yang di desain khusus menjamin darah akan sampai dengan cepat, akurat dan kualitas yang terjamin. sehingga keselamatan dan kesembuhan pasien lebih optimal. 
4. Bagaimana inovasi ini dilaksanakan?
Pelaksanaan inovasi Blood-jek ini adalah sbb :
a. Kesiapan internal untuk melaksanakan inovasi ini yaitu dengan cara sosialisasi internal, perekrutan tenaga, desain sepeda motor blood-jek (pada tahun 2013 Inventaris Sepedah Motor di Desain Ulang dengan Branding Emergency Blood Motor dan pada tahun 2016 Re-Branding dengan Nama Blood_Jek) 
b. Penerbitan SK Kepala tentang Layanan Blood_jek
c. Pembuatan Standart Operasional Prosedur dan Instruksi Kerja distribusi darah
d. Penandatanganan komitmen layanan oleh seluruh staff terkait distribusi darah
e. Kerjasama dengan pihak ke-3
Kerjasama yang kami laksanakan dengan pihak ke-3 dalam mensosialisasikan Blood_Jek sebagai upaya peningkatan pelayanan darah di Kabupaten Lumajang. Sasaran kerjasama ini, antara lain media cetak, media elektronik, dan Customer Service Relationship (CSR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Lumajang.
1. Kerjasama dengan media cetak
Kerjasama dengan media cetak dilakukan dengan majalah Gelora PMI Provinsi Jawa Timur. Blood_Jek menjadi salah satu topik utama dalam majalah ini. Liputan Blood_Jek dilakukan pada bulan Desember 2016 di UTD PMI Kabupaten Lumajang. Liputan ini dikemas dengan cara mensosialisasi layanan antar darah UTD PMI Kabupaten Lumajang dengan mengundang seluruh koordinator pelayanan darah di seluruh Rumah Sakit di Kabupaten Lumajang.
2. Kerjasama dengan radio
Pelaksanaan kerjasama ini dilakukan dalam bentuk perjanjian kerjasama antara radio Gloria FM Lumajang dengan UTD PMI Kabupaten Lumajang. Kerjasama ini dimulai pada tahun 2014 sampai sekarang. Bentuk kegiatan berupa talkshow, iklan, dan siaran langsung pada acara UTD. Talkshow dilakukan satu bulan sekali. Salah satu topik yang menarik dan mendapat respon positif dari masyarakat adalah Blood_Jek layanan antar darah UTD PMI Kabupaten Lumajang. Harapannya dengan adanya kegiatan ini, masyarakat semakin mengetahui dan mengenal tentang Unit Transfusi Darah dan semua upaya peningkatan pelayanan darah yang diberikan kepada masyarakat khususnya masyarakat.
3. Kerjasama dengan BRI
Kerjasama dengan BRI ini dilakukan dalam bentuk pengadaan seragam khusus pengantar darah. Ciri khas seragam pengantar darah ini adalah terdapat logo BRI di sisi kanan atas bagian depan seragam. Pemberian seragam oleh BRI kepada UTD PMI Kabupaten Lumajang dilakukan ceremonial dalam acara peringatan HUT PMI tahun 2015, yang dihadiri oleh Ketua PMI Prov Jawa Timur, Forkopimda, ketua ranting PMI, Pembina PMR, dan relawan se-Kabupaten Lumajang.
f. Pendekatan ke Rumah Sakit tentang layanan antar darah 
1. Kesepakatan kerjasama tentang layanan antar darah
Pendekatan ke Rumah Sakit tentang layanan antar darah ini terus tertuang dalam bentuk MOU antara Rumah Sakit dengan UTD PMI Kabupaten Lumajang. Rumah sakit yang bekerja sama dengan UTD antara lain RSUD dr. Haryoto, RS Islam Lumajang, RS. Bhayangkara Lumajang, dan RS. Wijaya Kusuma Lumajang. 
2. Sosialisasi Blood_Jek kepada Rumah Sakit pengguna layanan antar darah
Pelaksanaan sosialisasi dilakukan di UTD maupun di Rumah Sakit. Isi sosialisasi berupa teknis layanan Blood_Jek. Tujuan utama teknis layanan antar darah adalah untuk menjamin rantai dingin distribusi darah tetap terjaga sesuai standart penyimpanan. Tenaga pengantar darah adalah tenaga yang berkompeten dari UTD PMI Kabupaten Lumajang. Rumah sakit adalah salah satu pelanggan UTD PMI Kabupaten Lumajang, sudah seharusnya UTD PMI Kabupaten Lumajang terus berusaha dan berupaya untuk meningkatkan pelayanan darah demi kepuasan pelanggan.
g. Paparan blood_Jek di tingkat PMI Provinsi Jatim
Pada bulan Desember 2016, UTD PMI Kabupaten Lumajang menjadi salah satu narasumber upaya peningkatan pelayanan darah “Blood_Jek” dalam Musyawarah Kerja Provinsi PMI Jawa Timur yang dihadiri oleh seluruh Ketua PMI dan Kepala UTD PMI Kabupaten/Kota se-provinsi Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, Ketua PMI Provinsi Jawa Timur sangat apresiasi sekali kepada UTD PMI Kabupaten Lumajang dengan menghimbau kepada seluruh UTD PMI Kabupaten/kota di Jawa Timur untuk mereplikasi Blood_Jek sebagai sarana layanan antar darah yang dapat menjamin rantai dingin pelayanan darah yang diberikan kepada pasien.
h. Monitoring dan evaluasi dengan dokumentasi komplain dan survey kepuasan masyarakat minimal 6 bulan sekali 
5. Siapa saja pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan?
a. Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Lumajang
UTD PMI Kabupaten Lumajang sebagai satu satunya penyedia darah di Kabupaten Lumajang harus menjamin darah tetap berkualitas. Pelayanan darah harus sesuai standart pelayanan darah yang sudah ditentukan. Salah satu aspek pelayanan adalah distribusi darah. Dengan adanya sistem layanan darah Blood_Jek, UTD dapat menjamin darah tetap terjaga kualitasnnya.
b. PMI Kabupaten Lumajang dan PMI Provinsi Jawa Timur
UTD PMI Kabupaten Lumajang adalah Unit yang berada dibawah naungan PMI Kabupaten Lumajang. Berdasarkan PP No.18 tahun 1980 PMI bertugas untuk memberikan pelayanan transfusi darah. Tujuan penyelenggaraan pelayanan darah adalah memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan darah serta memudahkan akses memperoleh darah untuk penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. 
c. Rumah Sakit Negeri dan atau swasta di Kabupaten Lumajang
Rumah Sakit dalam melaksanakan upaya kuratif kepada pasien, sangat bergantung kepada berbagai pihak. UTD PMI berperan menyediakan darah untuk kesembuhan dan pemulihan kesehatan. Apabila keamanan dan kecepatan darah tidak dapat terjamin, maka sistem layanan di Rumah Sakit juga akan terganggu.
d. Dinas Kesehatan sebagai pelaksana Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang di bidang kesehatan
Pelaksana Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang di Bidang Kesehatan adalah Dinas Kesehatan yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian. Indikator pembangunan di suatu daerah berhasil dilihat dari tinggi rendahnya angka kematian ibu. Pada tahun 2016 Kabupaten Lumajang menduduki rangking ke dua di provinsi Jawa Timur. Penyumbang angka kematian ibu adalah perdarahan. Oleh karena itu kualitas pelayanan darah di Kabupaten Lumajang harus ditingkatkan. Upaya peningkatan melalui layanan antar darah Blood_Jek.
e. Bank Rakyat Indonesia Cabang Lumajang
Upaya BRI dalam meningkatkan layanan kepada masyarakat dan membantu inovasi suatu lembaga dengan memberikan layanan berupa bantuan langsung maupun tidak langsung. Inovasi pelayanan publik dalam layanan antar darah berupa Blood_Jek di dukung oleh BRI berupa bantuan seragam yang berlogo BRI. 
6. Sumber daya apa saja yang digunakan untuk melaksanakan inovasi ini dan bagaimana sumber daya itu dimobilisasi? 
Sumber pembiayaan layanan antar darah berasal dari:
A. Kas UTD PMI Kabupaten Lumajang (Biaya pengganti Pengolahan Darah), dengan rincian:
1. Pengadaan Sepeda Motor : Rp. 12.700.000,-
2. Pengadaan Cool Box : Rp. 750.000,-
3. Servis Sepeda motor : Rp. 2.000.000,- / tahun
4. Bahan Bakar : Rp. 3.500.000,- / tahun
5. Identitas ulang Blood_Jek : Rp. 1.000.000,-
6. Petugas : Rp. 36.000.000,- / tahun
B. Bantuan dari PMI Prov Jawa Timur tahun 2016
1. Satu Unit Blood_Jek (sepeda motor dan perlengkapan): Rp. 23.000.000,-
C. Bantuan dari BRI Cabang Lumajang
1. Seragam Blood_Jek : Rp.1.950.000 
7. Apa saja output/keluaran yang dihasilkan oleh inovasi ini?
  1. Blood Jek telah diputuskan sebagai sarana distribusi darah Kab Lumajang yang disahkan melalui Surat keputusan Kepala UTD PMI Kabupaten Lumajang Nomor 008/02.06.33/UTD/I/2016 tanggal 28 Januari 2016 tentang pelayanan distribusi darah
  2. Telah terbentuk subbag Distribusi darah pada struktur organisasi UTD PMI Kab. Lumajang beserta tugas pokok dan fungsi yang sudah dibuat dan disosialisasikan kepada pengantar darah.
  3. Adanya pernyataan komitmen layanan dari seluruh karyawan UTD PMI Kabupaten Lumajang yang telah ditandatangani bersama karena keberhasilan sistem tersebut harus didukung oleh semua pihak, baik internal yaitu pihak UTD PMI Kabupaten Lumajang maupun eksternal yaitu pihak pengguna layanan antar darah dalam hal ini Rumah Sakit. Dukungan yang dilaksanakan pihak internal yaitu dibuatnya komitmen layanan bersama yang ditandatangani oleh seluruh karyawan UTD PMI untuk satu tekad bersama-sama mewujudkan pelayanan antar darah Blood_Jek menjadi sistem yang dapat menjamin rantai dingin darah dari UTD ke Rumah Sakit. 
  4. Telah tersusun Standart Operasional Prosedur dan Instruksi Kerja tentang distribusi darah sebagai pedoman pengantar darah dalam memberikan layanan kepada pasienTercapainya sasaran mutu distribusi darah, yaitu suhu simpan darah sesuai dengan suhu simpan yang dipersyaratkan sesuai jenis darah dan komponen yang dibutuhkan. Pelayanan harus cepat diantar tanpa menunggu permintaan berikutnya. 
  5. Telah ada kesepakatan bersama atau MOU tentang layanan distribusi darah antara Rumah Sakit Negeri/ Swasta dan Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Lumajang tentang pelayanan distribusi darah. Kesepakatan tersebut mengatur tentang teknis kegiatan layanan antar darah. Serta hak dan kewajiban masing-masing pihak agar layanan ini tetap terlaksana.
  6. Grafik komplain Rumah Sakit terhadap pelayanan darah dari tahun ke tahun semakin menurun, terutama dalam konteks masalah keamanan, kecepatan dan ketepatan darah tiba di Rumah Sakit. 
8. Sistem apa yang diterapkan untuk memantau kemajuan dan mengevaluasi kegiatan dalam inovasi ini?
1. Managemen komplain
Managemen komplain merupakan upaya yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana keberhasilan pelaksanaan Blood_Jek. Pelaksanaan komplain dengan sistem keterbukaan ini, dapat dilakukan setiap hari, lewat telepon maupun secara langsung ke petugas UTD PMI Lumajang. Penyampaian komplain dilakukan secara terbuka. Komplain ini dicatat dan langsung ditindaklanjuti oleh UTD PMI Kabupaten Lumajang dalam rapat tinjauan managemen. Hasil dari rapat segera disosialisasikan kepada seluruh petugas dan pelanggan. Managemen komplain salah satu sarana yang sangat efektif dan efisien dalam memantau dan mengevaluasi kegiatan layanan. Komitmen bersama seluruh staf dan pimpinan UTD PMI Kabupaten Lumajang dalam menindaklajuti komplain yang diterima. 
2. Survey pelanggan 
Survey kepuasaan pelanggan rutin dilakukan oleh UTD PMI Kabupaten Lumajang setiap 6 bulan sekali. Sasaran survey ini adalah petugas yang berwenang di Rumah Sakit (Perawat / Dokter). Survey ini berisi tentang:
a. Lembar informend consent
b. Data responden
c. Daftar kuesioner, antara lain:
a) Sistem layanan antar darah Blood_Jek
b) Keadaan fisik darah yang diterima
c) Kesalahan dalam pengantar darah
d) Sistem layanan yang dapat membantu permintaan darah cyto
e) Tanggung jawab petugas pengantar darah
f) Kemampuan petugas pengantar darah
g) Kecepatan layanan antar darah Blood_Jek
h) Kesopanan dan keramahan petugas pengantar darah
d. Saran terhadap layanan. 
9. Apa saja kendala utama yang dihadapi dalam pelaksanaan inovasi dan bagaimana kendala tersebut diatasi?
  1. Jumlah tenaga pengantar darah yang tidak sebanding dengan jumlah permintaan darah. Permintaan darah yang cukup tinggi dan tidak dapat diprediksi seringkali menyebabkan kekurangan tenaga pengantar darah. Saat ini hanya terdapat 3 orang petugas yang dibagi menjadi 3 shift setiap harinya. Kendala ini dapat diatasi dengan adanya komitmen integritas seluruh petugas, sehingga pada kondisi yang dibutuhkan petugas lain yang memiliki kompetensi pengantar darah dapat membantu mengantarkan darah yang dibutuhkan. 
  2. Jumlah sarana dan prasarana yang tidak sebanding dengan jumlah permintaan darah. UTD PMI Kabupaten Lumajang hanya mempunyai satu sarana kendaraan yang dilengkapi dengan coolbox penyimpan darah. Akibatnya apabila pengantar darah masih proses mengantar darah, dan pada waktu bersamaan ada permintaan darah maka petugas lain akan mengantar darah dengan menggunakan sarana yang tidak sesuai dengan spesifikasi pengantar darah. Sehingga kualitas pelayanan darah kurang maksimal. Masalah ini dapat diatasi dengan adanya bantuan satu unit sepeda motor beserta kelengkapan pengantar darah oleh PMI Provinsi Jawa Timur pada acara Musyawarah kerja PMI Provinsi Jawa Timur tahun 2016.
  3. Identitas pasien yang tidak lengkap pada form permintaan darah. Identitas pasien yang kurang lengkap misalnya nama ruang dan kelas Rumah sakit pasien dirawat, membuat petugas pengantar darah sering salah tempat dalam pengiriman darah. Masalah ini dapat diatasi dengan sosialisasi kepada pihak Rumah Sakit bahwa formulir permintaan darah harus diisi dengan lengkap dan benar. 
10. Apa saja manfaat utama yang dihasilkan dari inovasi ini?
  • Kepuasan pelanggan meningkat, yang ditunjukkan oleh Indeks kepuasan pelanggan terhadap layanan antar darah Blood_Jek dengan indeks kepuasan sebesar 1.94, nilai IKP setelah dikonversi sebesar 97, sehingga mutu pelayanan dalam kategori A dan kinerja unit pelayanan antar darah Blood_Jek dalam kategori Baik. Dengan menggunakan pedoman penyusunan indeks kepuasan pelanggan UTD PMI Kabupaten Lumajang.
  • Pemenuhan kebutuhan darah berkualitas telah dapat dinikmati di semua elemen masyarakat dengan menggratiskan biaya antar darah.
  • Laporan reaksi tranfusi dari Rumah Sakit Ke Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Lumajang setiap tahun menggalami penurunan secara signifikan.
  • Sasaran mutu seksi distribusi darah tercapai antara lain: pengiriman darah dalam kota sesuai dengan suhu pengiriman darah dan setiap permintaan langsung diantar tanpa menunggu permintaan selanjutnya. 
11. Apa bedanya sebelum dan sesudah inovasi?
SEBELUM SESUDAH
  • UTD tidak bisa menjamin keamanan, karena darah dari UTD dibawa sendiri oleh keluarga pasien.
  • Kecepatan tidak bisa diprediksi, banyak keterlambatan waktu sehingga mempengaruhi sistem pelayanan di Rumah Sakit
  • Suhu simpan darah tidak terjaga dan terkontrol sehingga sampai di Rumah Sakit darah rusak
  • Darah dibawa keluarga pasien hanya menggunakan tas kresek ketika membawa darah dari Unit Transfusi Darah ke Rumah Sakit
  • Keluarga pasien tidak perlu menunggu 3 jam di Unit Transfusi Darah sampai darah siap untuk ditransfusikan
  • Banyak darah yang rusak karena pendistribusian darah yang tidak sesuai SOP.

SESUDAH

  • UTD bisa menjamin keamanan darah karena seluruh proses dilakukan oleh tenaga yang berkompeten. Untuk distribusi darah dilakukan oleh petugas UTD.
  • Kecepatan pelayanan bisa diprediksi, tepat waktu dan tidak mengganggu sistem pelayanan Rumah Sakit 
  • Suhu darah terjaga dan terkontrol dalam suhu simpan darah sesuai strandart tranfsusi darah 
  • Darah dibawa dengan dimasukkan dalam coolbox khusus darah deangan suhu yang terkontrol.
  • Keluarga pasien menyelesaikan proses administrasi dan kembali ke RS sehingga hanya butuh waktu tunggu 15 menit.
  • Kerusakan darah hampir tidak ada karena, pendistribusian darah sesua dengan SOP. 
12. Apa saja pembelajaran yang dapat dipetik dari penerapan inovasi ini?
  1. Selama ini proses layanan distribusi darah dianggap sepele namun proeses ini sangat mempengaruhi kualitas darah.
  2. Komitmen yang tinggi dari seluruh karyawan UTD PMI agar darah cepat, aman dan tepat sampai di Rumah Sakit adalah kunci awal kelangsungan sistem dan keberhasilan layanan antar darah ini.
  3. Apabila ada salah satu anggota keluarga sakit dapat mempengaruhi psikologi dan kestabilan emosi anggota keluarga yang lain. Maka dari itu Blood_jek memberikan solusi untuk meringankan beban anggota keluarga pasien.
  4. Semakin banyak Rumah Sakit yang dilayani akan berpengaruh langsung terhadap jumlah permintaan darah, sehingga sarana antar darah sangat kurang jika hanya tersedia satu unit sarana. 
  5. Darah yang berkualitas merupakan obat dan penunjang kesembuhan pasien, maka darah harus benar-benar berkualitas. dengan cara menjamin keamanan di setiap proses layanan darah khususnya distribusi darah.
  6. Blood_Jek menjadi salah satu topik utama dalam majalah GELORA PMI, sehingga dalam kesempatan tersebut, Ketua PMI Provinsi Jawa Timur sangat menghimbau kepada seluruh UTD PMI Kabupaten/kota di Jawa Timur untuk mereplikasi Blood_Jek sebagai sarana layanan antar darah yang dapat menjamin rantai dingin pelayanan darah yang diberikan kepada pasien. 
13. Apakah inovasi ini berkelanjutan dan sedang atau sudah direplikasi di tempat lain?
Sistem layanan antar darah Blood_Jek adalah salah satu cara efektif dan efisien agar rantai dingin darah dapat terwujud. Tuntutan bahwa darah yang keluar dari Unit Transfusi Darah harus berkualitas dan mempunyai efek terapeutik pada kesembuhan pasien yang di rawat di Rumah Sakit maka darah adalah salah satu penunjang utama sistem layanan di Rumah Sakit. Oleh karena itu, kemudahan akses dan keterjangkauan darah perlu dilakukan. 
Inovasi pelayanan publik ini dapat direplikasi oleh seluruh Unit Transfusi Darah di Indonesia. Tugas Unit Transfusi Darah sebagai penyedia darah harus dapat menjamin kualitas darah sampai ke Rumah sakit. Maka komitmen dari semua pihak yakni dari kepala UTD beserta staf serta Rumah Sakit sebagai pengguna darah untuk melakukan ini semua. Inovasi Blood_Jek sebagai sarana layanan antar darah yang menjamin rantai dingin pelayanan darah untuk proses penyembuhan pasien ini sangat efektif dan efesien. 
Bahkan, ketua PMI Provinsi Jawa Timur Bapak Imam Utomo, menerbitkan surat  Nomor. 0316/02.06.00/ADM/II/2017 tanggal 21 Februari 2017, tentang inovasi pelayanan pengantaran darah pasien di Rumah Sakit yang dapat menjadi inspirasi untuk dapat diterapkan di semua UTD PMI Kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur. Awal Tahun 2017, beberapa Unit Transfusi Darah PMI sudah mereplikasi Inovasi Layanan Antar Darah Blood_Jek, seperti UTD PMI Kabupaten Banyuwangi dan UTD PMI Kota Blitar.

Kategori: Kesehatan
Personal Kontak : dr. Halimi Maksum, MMRS
Telepon : 081216316416
Instansi : UTD PMI Kab. Lumajang



Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh