E-Health

Kamis, 19 Mei 2016 - 17:35 WIB

Komitmen untuk senantiasa memberikan pelayanan publik yang terbaik mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik di Pemko Surabaya. Salah satunya dengan memanfaatkan TIK untuk mempercepat pelayanan e-Health, yaitu aplikasi yang memudahkan warga untuk mempersingkat antrean di puskemas atau rumah sakit. Melalui penggunaan aplikasi e-Health, pemohon tidak perlu datang langsung ke loket pelayanan, cukup mendaftar di rumah bagi yang mempunyai koneksi internet atau di kios yang tersedia di seluruh kantor kelurahan, kecamatan dan puskemas Kota Surabaya, sehingga lebih efisien, pemrosesan berkas menjadi lebih cepat, di samping ramah lingkungan karena pengurangan penggunaan kertas.

Permasalahan utama yang mendasari munculnya e-Health adalah: 1) Volume antrean di puskesmas maupun rumah sakit selalu padat setiap hari kerja, jumlah pasien puskesmas rata-rata per hari 100 s.d. 300 pasien dan jumlah pasien rumah sakit rata-rata per hari 500 s.d. 1000 pasien; 2) Untuk sekali pendaftaran di loket puskesmas dan rumah sakit, pasien memerlukan waktu rata-rata 1,5 menit, sementara untuk sekali tindakan di puskesmas dan rumah sakit waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 5 s.d. 30 menit tergantung tindakan yang dibutuhkan; dan 3) Pelayanan rujukan pasien kurang maksimal dari segi waktu karena masalah administrasi seperti data pasien, dan validasi data. Kelompok yang terpengaruh umumnya adalah orang miskin, buta huruf, penyandang cacat, dan manula yang membutuhkan pelayanan kesehatan murah.

E-Health adalah solusi bagi permasalahan volume antrean pasien pada setiap hari kerja. Selama ini warga harus mengantre lama, sebelum dimulainya jam kerja di puskesmas maupun rumah sakit. Tak jarang warga meletakkan barang-barangnya seperti helm sebagai penanda urutan antrean mereka. Melalui e-Health, warga tidak perlu lagi repot mengantre terlalu dini di puskesmas maupun rumah sakit. Cukup terhubung dengan koneksi internet dan mengakses aplikasi e-Health, warga bisa mendaftar ke puskesmas atau rumah sakit dan bisa datang berobat sesuai jam yang tertera di nomor antrean. Hal tersebut lebih efisien terutama untuk orang miskin, buta huruf, penyandang cacat, dan manula yang memiliki akses kesehatan dan akses informasi terkait kesehatan yang terbatas. Warga yang tergolong kelompok tersebut tinggal mendatangi kantor kecamatan/kelurahan terdekat dengan lokasi tempat tinggal untuk menghubungi petugas yang memang sudah disiagakan membantu warga yang ingin melakukan registrasi melalui aplikasi e-Health. Pelayanan e-Healthdigagas oleh Pemko Surabaya melalui SKPD, yaitu Puskesmas, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan Dinas Kominfo selaku leading sector di bidang pengembangan dan pemanfaatan TIK.

Inisiatif ini kreatif dan inovatif. Meskipun memanfaatkan TIK, e-Health tetap menggunakan pendekatan humanis. Aplikasi e-Health memiliki 3 bahasa untuk berkomunikasi dengan warga yang memanfaatkan layanan baik teks maupun audio, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa (Surabaya), dan Bahasa Madura. Pemilihan 3 bahasa tersebut dilatarbelakangi selain karena warga Kota Surabaya banyak didiami oleh suku Jawa dan Madura, juga untuk lebih mendekatkan aplikasi e-Health kepada warga, karena warga familiar dengan bahasa yang dipergunakan di aplikasi e-Health tersebut.

Langkah pelaksanaan, meliputi 1) Perencanaan sistem (pembuatan konsep aplikasi e-Health), 2) Perancangan sistem (pembuatan dan pengembangan sistem aplikasi e-Health), 3) Uji coba (sistem aplikasi e-Health, pelatihan, dan pendampingan SDM); dan 4) Implementasi (launching, sosialisasi, dan implementasi e-Health). Inisiatif e-Health digagas Walikota Surabaya saat meninjau kondisi di lapangan, yaitu rumah sakit dan puskesmas di mana setiap hari kerja volume antrean di rumah sakit dan puskesmas sangat padat yang kemudian didiskusikan oleh Walikota Surabaya dengan para pejabat SKPD yang menjadi leading sector permasalahan ini, yaitu Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan Rumah Sakit selaku pelaksana kegiatan pelayanan, Dinas Dukcapil untuk integrasi data kependudukan, dan Dinas Kominfo selaku leading sector di bidang TIK. Pada tataran perancangan sistem, para pejabat dan penyelenggara teknis pada SKPD tersebut berkoordinasi untuk membuat aplikasi e-Health. Pada tataran implementasi, bekerja sama dengan Kantor Kecamatan/Kelurahan dan petugas puskesmas dan rumah sakit selaku pelaksana di lapangan.

Sumber daya meliputi keuangan, SDM, dan teknis. Pembiayaan berasal dari alokasi APBD Kota Surabaya. Sementara untuk teknis perancangan sistem, aplikasi, dan sumber daya manusia berasal dari para pegawai Pemko Surabaya di Dinas Kesehatan, Dinas Kominfo Kota Surabaya, Dinas Dukcapil, Puskesmas, Rumah Sakit, Kecamatan dan Kelurahan.

Keluaran yang paling berhasil adalah 1) Volume antrean berkurang hingga 1/3 pasien, karena kecepatan pelayanan registrasi yang apabila menggunakan metode konvensional memerlukan waktu rata-rata 90 detik, dengan menggunakan e-Health dipangkas menjadi 30 detik; 2) Pasien yang bisa ditangani menjadi 1/3 lebih banyak karena kecepatan pelayanan dengan menggunakan e-Health; 3) Rujukan pasien menjadi lebih cepat karena bisa dilakukan secaraonline; 4) Record data pasien menjadi lebih cepat; dan 5) Validasi data pasien menjadi lebih akurat.

Sistem pemantuan dan evaluasi, meliputi 1) Monitoring dilakukan by sistem oleh Dinas Kesehatan melalui dashboard aplikasi yang memonitor (jumlah rujukan online, 10 penyakit terbanyak, tipe pembayaran pasien, poli yang paling banyak dikunjungi, per tenaga kesehatan melayani berapa orang, dan real time monitoring pendaftaran di puskesmas); dan 2) Di samping monitoring by sistemmonitoring juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Kominfo dengan supervisi di lapangan dan melalui pengaduan masyarakat yang masuk ke Media Center Pemko Surabaya yang dikelola oleh Dinas Kominfo, pengaduan yang masuk ke Dinas Kesehatan, ataupun langsung di Puskesmas dan Rumah Sakit terkait.

Kesenjangan kemampuan IT yang masih terjadi di warga Kota Surabaya dan kesibukan lalu- lintas jaringan internet dengan bandwith yang terbatas ketika sedang peak hours, dapat diatasi dengan memberikan pelatihan internet gratis kepada masyarakat melalui Broadband Learning Center (BLC) yang tersebar di rumah susun, taman dan kantor kecamatan/kelurahan. Selain itu dengan menyiagakan petugas di kantor kecamatan/kelurahan untuk membantu warga yang kesulitan saat berinteraksi dengan aplikasi milik Pemko Surabaya, termasuk juga dengan menyiapkan call center pusat informasi dan pengaduan. Memberikan wifi gratis di taman-taman sehingga warga bisa memanfaatkan untuk belajar internet. Sementara lalu lintas jaringan internet yang padat terutama saat peak hours dapat diatasi dengan melakukan evaluasi penggunaan bandwith dan melakukan audit TIK sehingga dapat diketahui kebutuhan TIK warga untuk dilakukan pemutakhiran kebutuhan.

Dampak positif yang dapat diambil adalah kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di kota Surabaya menjadi positif, sehingga dengan mind set yang positif tersebut warga nantinya bisa ikut membantu pemerintah dengan berkontribusi baik ide, pemikiran, maupun tenaga menuju pelayanan kesehatan yang ideal untuk warga kota Surabaya. Selain itu melalui inisiatif ini dapat diperoleh gambaran database kesehatan penduduk Surabaya yang nantinya data tersebut dapat diintegrasikan dengan data lainnya untuk menuju Surabaya yang semakin baik.

Untuk menjamin keberlanjutan aplikasi ini, Pemko Surabaya sedang menyiapkan payung hukum untuk inisiatif ini yang dituangkan ke dalam Peraturan Walikota Surabaya. Menteri PANRB pada awal Januari 2015 sempat berkunjung ke Surabaya untuk menggali informasi dan mencoba aplikasi ini. Pembelajaran dari e-Health, yaitu 1) merancang sistem dan membangun aplikasi e-Health membutuhkan integrasi antar SKPD yang solid; 2) Pembangunan aplikasi menghapuskan ego sektoral di kalangan SKPD karena dibutuhkan koordinasi dan berbagi data yang dimiliki oleh masing-masing SKPD, serta kerja sama sampai ke level SKPD paling bawah agar langsung bersentuhan dengan warga, sehingga implementasi aplikasi ini bisa berhasil dan maksimal.

Sumber: TOP 25 INOVASI PELAYANAN PUBLIK INDONESIA 2015 KemenPANRB http://sinovik.menpan.go.id

Kategori: Kesehatan
Personal Kontak : Kota Surabaya
Instansi : Kota Surabaya



Komentar:
img

Dimyadi brawijaya

12/07/2017 - 14:47

Ass. Ini kan saya sudah daftar sudah dapet nomer antrian juga sudah di simpen juga pas saya buka di dokumen hp saya kok masih belum tersimpan tapi saya cobak lagi daftar di ehealth itu kok gak bisa di infonya itu ada tulisan anda sudah terdaftar tapi di dokumen hp saya itu gak ada dokumen yang mau di printout terus ini gimana ya saya bingung

img

Sofiyatuzzahro

19/04/2017 - 12:27

Pelayanan di puskesmas ketabangkali di bagian poli gigi sangat mengecewakan.
Saya sudah mengantri sekitar 2 1/2 jam lalu panggil saya masuk dalam ruangan tiba tiba salah satu dokter memarahi saya karena datang kesiangan.
sebelumnya saya sudah pernah perawatan gigi disana dan dia pun bekerja sama ngomong terus untungnya tidak terjadi apa2 pada saya
Bukankah dokter berkwajiban untuk melayani masyarakat ?
Memang kita yang butuh mreka tapi bukan berarti dokter seenaknya sendiri.


Didukung oleh