Banyuwangi Sehat Lewat SIRAMI GIZI

Senin, 20 Juni 2016 - 16:14 WIB
Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita di salah satu posyandu di Banyuwangi. ©PKM Sliliragung

Angka Gizi Buruk di Kabupaten Banyuwangi mencapai 909 kasus pada tahun 2013. Wilayah layanan Puskesmas Singotrunan merupakan kantung penyumbang tertinggi, 158 balita ditemukan bermasalah dengan gizi (47 gizi buruk dan 111 gizi kurang) dan  1 balita meninggal karena hidrocephalus. Kondisi ini terulang pada tahun berikutnya, 162 balita memiliki masalah gizi (60 gizi buruk dan 102 gizi kurang) dan 1 balita meninggal dikarenakan penyakit menular (HIV/AIDS).  Padahal periode masa balita merupakan periode masa kritis, sekaligus masa optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan otak.

Rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu menjadi faktor utama penyebab banyaknya kasus gizi buruk.  Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat tentang gizi.  Dampak ikutannya adalah keluarga lamban merespon gejala masalah gizi dan penggalang dana dukung kegiatan masyarakat yang belum maksimal. Adapun faktor penyebab lain meliputi: sebagian masyarakat juga tidak memiliki identitas pengenal tetap, sehingga memperlamban penanganan rujukan ke RS. Terjadi pula perbedaan persepsi tentang status gizi balita yang menganggap bahwa balita kurus adalah faktor keturunan bukan dari akibat kurang gizi , sehingga komunikasi antara warga dengan petugas terhambat karena pola pikir yang salah.

Aksi Ramah Peduli Pemulihan Gizi (SIRAMI GIZI) merupkan layanan jasa bidang kesehatan pada bayi dan balita yang beresiko dengan masalah gizi agar menjadi anak TOKCER (Anak Tumbuh Optimal Berkualitas dan Cerdas).  Pengembangan inovasi ini dimulai sejak 2013, yang diinspirasi oleh program Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mempercepat pelayanan dengan semangat One Program One Innovation.  

Strategi Implementasi inovasi ini meliputi: (1) Optimalisasi fungsi posyandu untuk pemantauan status gizi, (2) Pembentukan dan Optimalisasi Fungsi Tim Sirami, (3) Peningkatan Informasi Gizi dan Pemberian Asupan Makanan, (4) Evaluasi dan Pendampingan Khusus Balita Gizi Buruk, (5) Penyediaan Klinik Gizi (6) Pemeriksaan Hb. Optimalisasi posyandu diarahkan untuk mengenali petunjuk awal perubahan status gizi balita. Evaluasi dilakukan dengan metode festival balita gizi buruk dan gizi kurang yang diikuti semua cakupan gizi buruk dan gizi kurang. Dimana pemenangnya adalah balita yang pertumbuhan dan perkembanganya naik paling signifikan mendapat reward sehingga diharapkan pemenangnya menjadi inspirasi bagi ibu-ibu yang lain. Festival ini sekaligus menunjukkan bahwa antusias orang tua meningkat dalam mengatasi masalah gizi anaknya ini terlihat saat festival  diselenggarakan sebagian besar selalu diikuti oleh orang tua yang memiliki anak dengan gizi buruk dan gizi kurang.

Optimalisasi Fungsi Tim Sirami Gizi juga dilakukan melalui kegiatan Jum’at Sehat Bersama Kader Motivator Gizi yakni melakukan penyuluhan dan demo masak makanan sehat, murah dan mudah serta makan bersama balita gizi buruk.

 

Gizi kurang pada balita tidak terjadi secara tiba – tiba, tetapi diawali dengan keterbatasan kenaikan berat badan yang tidak cukup dan perubahan berat badan balita dari waktu kewaktu. Dalam periode 6 bulan, bayi yang berat badannya tidak naik dua kali berisiko mengalami gizi kurang sebesar 12,6 kali di bandingkan pada balita yang berat badannya naik terus. 

Perubahan yang terjadi setelah SIRAMI GIZI dimulai yakni (1) Penurunan jumlah gizi buruk. Pada tahun 2014 ditemukan 162 balita memiliki masalah gizi (60 gizi buruk dan 102 gizi kurang) dan 1 balita meninggal dikarenakan penyakit menular (HIV/AIDS). Pada tahun 2015 ditemukan 141 balita yang bermasalah dengan gizi (102 gizi kurang dan 39 gizi buruk), (2) Antusias orang tua meningkat dalam mengatasi masalah gizi anaknya hal ini terlihat saat festival balita gizi buruk dan gizi kurang yang diikuti semua cakupan gizi buruk, (3) Menurunnya persentase bumil KEK dari 61 orang menjadi 32 orang, (4) Meningkatnya pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dari 46,63% menjadi 88,44%, (5) Kunjungan balita diposyandu meningkat dari 72% menjadi 89,9%, (6) Pengetahuan ibu tentang makanan yang bergizi meningkat.

 

 

 

 

 

Semakin berkurangnya minat pengunjung posyandu yang berdampak pada meningkatnya angka gizi kurang dan gizi buruk pada bayi dan balita di masyarakat

Himbauan dari Kepala daerah/ Bupati Banyuwangi untuk melakukan terobosan dalam rangka percepatan penurunan angka gizi kurang dan gizi buruk dengan menerapkan One Program One Innovation

Ka. DINKES BANYUWANGI

UPTD PUSKESMAS se Kabupaten Banyuwangi

UPTD PUSKESMAS SINGOTRUNAN

(SIRAMI GIZI) , yaitu layanan jasa bidang kesehatan pada bayi dan balita yang beresiko dengan masalah gizi agar menjadi anak TOKCER (Anak Tumbuh Optimal Berkualitas dan Cerdas)

 

 

 

 

Pembentukan Tim SIRAMI yang meliputi Camat, Lurah, Tim Penggerak PKK se wilayah kerja Puskesmas Singotrunan, Kepala Puskesmas, Koordinator gizi, Koordinator P2P, Bidan Koordinator, Bidan Wilayah, Kader Motivator Gizi, Analisis Kesehatan, Pengemudi Kesling.

 

 

 

 

 

 

Inovasi ini berbasiskan kerjasama multi pihak, dengan menempatkan Kepala UPTD Puskesmas sebagai insiator dan koordinator.  Peran para pihak tersebut dikelola dalam Tim SIRAMI yang diketuai oleh Ketua TP PKK Kecamata.  Secara lengkap seperti dapat dilihat pada tabel berikut:

No

Nama instansi

Jabatan dan Peran

1.

CAMAT BANYUWANGI

PEMBINA

Memberi regulasi dan advokasi serta Pemberian bantuan berupa paket PMT

2.

LURAH (Kepala Desa) dalam wilayah kerja Puskesmas Singotrunan

PEMBINA

Memberi regulasi dan advokasi berupa SK Kader KP ASI dan KADARSI

3.

Ketua TP PKK KECAMATAN

KETUA Tingkat Kecamatan

Memotivasi dan Sosialisasi Program SIRAMI pada Ketua TIM penggerak PKK kelurahan

4.

Ketua TP PKK Desa sewilayah kerja Puskesmas Singotrunan

KETUA Tingkat Desa

Membimbing dan memotivasi masyarakat melalui RT, RW dan Dasa Wisma

5.

Kepala UPTD Puskesmas Singotrunan

SEKRETARIS

Merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi proses kegiatan dan menentukan rencana tindak lanjut INOVASI SIRAMI GIZI

6.

1. Koordinator Gizi Puskesmas singotrunan

2.Koordinator P2P Puskesmas singotrunan

ANGGOTA

Pelaksana INOVASI SIRAMI GIZI yang meliputi pemberi layanan kesehatan, mengawasi permasalahan kesehatan terutama kesehatan terhadap gizi bayi dan balita, mengevaluasi hasil kegiatan, konseling, Pengawas distribusi PMT di Puskesmas, Memberikan bimbingan teknis kepada Kader.

7.

Bidan Koordinator Puskesmas singotrunan

Bidan wilayah

ANGGOTA

Pelaksana INOVASI SIRAMI GIZI yang meliputi Monitoring di posyandu, Membangun komunikasi antara lintas sektor, mengawasi permasalahan kesehatan terutama kesehatan terhadap gizi bayi dan balita, mengevaluasi hasil kegiatan, konseling, Pengawas distribusi PMT di wilayah kerja kelurahan, Memberikan bimbingan teknis kepada Kader.

8.

Analis Kesehatan

ANGGOTA

Pemeriksaan laborat meliputi Hb dan Golongan Darah

9.

Kader Motivator gizi & Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI)

 

ANGGOTA

Pelaksana INOVASI SIRAMI GIZI yang meliputi pelacakan, pendampingan keluarga, penempelan stiker, penyuluhan dan distribusi PMT.

10.

Pengemudi pusling

ANGGOTA

Rujukan, Media Informasi melalui siaran keliling

11.

Posyandu

ANGGOTA

Pemantauan status gizi meliputi Penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar kepala.

 

Kelompok kerja SIRAMI GIZI terbentuk diawali dari identifikasi masalah dengan mengadakan pertemuan melalui lokakarya mini puskesmas yang dilakukan secara rutin minimal satu kali tiap bulanya. Hasil dari lokakarya mini ini kemudian disusun formula kegiatan dalam mencari solusi yang tepat dengan menyusun strategi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sasaran yang harus dicapai dan evaluasi yang harus dilakukan dengan melibatkan kelompok masyarakat, lembaga, institusi, dunia usaha yang peduli terhadap inovasi program dengan tujuan utama menekan angka gizi buruk serta terjadinya kematian dengan kelompok sasaran yaitu bayi atau balita yang menderita penyakit, dan bayi atau balita yang kekurangan gizi.         

Formula yang sudah tersusun oleh tim perumus kegiatan Puskesmas Singotrunan utamanya kepala puskesmas, koodinator program gizi, koodinator P2P, bidan wilayah, (melalui lokmin lintas program), kader motivator gizi (terlatih melalui dinkes)  kemudian dibawa pada forum lokakarya mini lintas sektor untuk didiskusikan dan disempurnakan serta dibuat inisiatif bersama tentang inovasi program guna menekan angka gizi buruk di Wilayah Singotrunan. Melalui program Aksi ramah dan peduli gizi (SIRAMI GIZI) yaitu layanan jasa bidang kesehatan pada bayi dan balita yang beresiko dengan masalah gizi agar menjadi anak tocker (anak tumbuh optimal berkualitas dan cerdas) serta berprilaku keluarga sadar gizi. Kegiatan ini dilegalkan operasionalnya dengan surat keputusan nomor: 188/82/217/429.114.09.2014 tertanggal 4 Januari 2014, dengan susunan tim SIRMI GIZI yang tercantum dalam tabel diatas melalui kegiatan pencegahan, pertolongan/penanganan serta pendampingan dengan layanan kunjungan rumah dan pemantauan balita gizi buruk oleh kader motivator gizi serta melakukan penimbangan dan pemeriksaan cek HB oleh petugas kesehatan. Pelayanan 24 jam sebagai sarana mobilisasi petugas dalam kunjungan rumah dan penjemputan balita untuk dirujuk dengan tanpa dipungut biaya karena bersumber dari swadaya masyarakat.

  • Kerjasama dengan lintas sektor untuk melakukan sosialisasi SIRAMI pada masyarakat serta mengupayakan rivitalisasi posyandu dalam meningkatkan cakupan penimbangan balita
  • Membagikan lefleat pada masyarakat agar dibaca dan menambah pengetahuan serta wawasan tentang SIRAMI
  • Membentuk kader MOTIVATOR GIZI ditiap-tiap kelurahan dengan SK Kepala puskesmas melalui kerja sama lintas sektor agar setiap wilayah mengirimkan kader sebagai mitra tenaga kesehatan dalam mencapai tujuanya.
  • Membentuk kader Kelompok pendukung ASI (KP-ASI)  ditiap-tiap kelurahan dengan SK yang dikeluarkan oleh Kepala kelurahan.
  • Membentuk kader KADARZI ditiap-tiap kelurahan dengan SK  yang dikeluarkan oleh Kepala kelurahan.
  • Melaksanakan pelatihan terhadap kader sebagai motivator gizi, KP-ASI, KADARZI, dengan pelatihan khusus agar mempunyai kemampuan dalam hal deteksi dini terhadap perkembangan gizi dan tumbuh kembang anak.
  • Kebijakan dari kepala Puskesmas Singotrunan berupa keharusan bidan wilayah untuk tetap mengawasi permasalahan kesehatan terutama kesehatan terhadap gizi buruk yang terjadi pada bayi atau balita diwilayah kerjanya.
  • Mengikutkan tenaga kesehatan pelatihan, seminar, work shop guna meningkatkan ketrampilannya sehingga bisa meningkatkan kualitas pelayanan.
  • Mengadakan kegiatan evaluasi  setiap 2x dalam 1 tahun dengan pengadaan lomba balita gizi buruk yang tujuanya untuk memotivasi ibu agar lebih memperhatikan balitanya dalam hal tumbuh kembang dan status gizi anak setiap waktu.
  • Mengadakan makan bersama di hari jum’at pada minggu ketiga dengan mengajak balita serta orang tua menuju Puskesmas Singotrunan, serta mengajarkan orang tuanya tentang cara memasak dan mengolah makanan secara benar kemudian disuapkan kepada balitanya.
  • Membentuk askes komunikasi antara keluarga gizi buruk dengan Tim SIRAMI GIZI.
  • Melakukan refreshing kader untuk cara menimbang yang benar dan baik.
  • Melakukan tera ulang pada alat timbang posyandu secara rutin setiap satu tahun sekali.
  • Membuat dana sosial untuk keberlangsungan kegiatan, karena dengan dana ini operasional kegiatan bisa terbiayai semua. Dana ini murni dari swadaya masyarakat yang mempunyai simpati pada kegiatan ini.

Agar kegiatan bisa terarah dan mencapai hasil yang diinginkan, maka dibuat suatu rencana strategi kegiatan berupa:

  1. Memunculkan SK Kader sebagai motivator gizi, KP-ASI dan KADARZI.
  2. Penandatanganan kerja sama antara TIM SIRAMI Puskesmas dengan Kepala Kelurahan sewilayah kerja Puskesmas Singotrunan tentang sosialisasi SIRAMI Gizi.
  3. Menyusun dan membuat SOP untuk semua kegiatan SIRAMI Gizi.
  4. Melakukan upaya kesehatan secara promotif dan preventif melalui motivator gizi dengan melakukan pendampingan pada balita gizi buruk ataupun balita yang sehabis melakukan perawatan dirumah sakit untuk tetap dipantau dalam pemberian makanan pada balita serta kesehatanya agar stamina pada balita tetap terjaga dan stabil, guna mengamati perkembangan yang terjadi saat itu untuk dilaporkan kepada tim sirami atau bidan wilayah melalui sarana komunikasi yang tersedia.
  5. Melakukan upaya kesehatan secara kuratif dengan melakukan pemberian MP-ASI yang di dapat dari PMT pemulihan dari BOK sebesar Rp.20.560.000 dan juga dana BAZ sebesar Rp. 1.000.000, yang diberikan kepada balita gizi buruk yang menjalani perawatan dirumah sakit.
  6. Melaksanakan upaya kesehatan secara rehabilitatif melalui evaluasi kegiatan yang dilakukan setiap bulan dengan membuat laporan bualanan hasil kegiatan. Serta diadakan evaluasi kegiatan lomba balita gizi buruk setiap 2 kali dalam satu tahun.
  7. Pada saat acara makan bersama melibatkan peranan PKK untuk membantu  subsidi PMT
  8. Menyediakan klinik Gizi di Puskesmas Singotrunan yang dilaksanakan oleh petugas konselor Gizi.
  9. Tim Sirami melakukan sosialisasi program SIRAMI GIZI pada semua lapisan masyarakat melalui semua metode yang ada, agar masyarakat mengetahui dan bisa memanfaatkan layananan ini yang tanpa dipungut biaya.
  10. Melakukan kunjungan rumah balita gizi buruk untuk dilakukan pemeriksaan darah (HB) dan pemberian makanan tambahan.
  11. Mengikuti kegiatan lokmin lintas sektor sebagai sarana komunikasi dan mencari solusi bila menemukan hambatan.

Agar tujuan dari program ini dapat terlaksanan dengan baik, maka perlu adanya struktur organisasi, siapa yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan harus jelas, maka disusunlah personil organisasi yang terlibat dalam pelaksanaan antara lain : 

  1. Kepala puskesmas dengan seluruh karyawan Puskesmas Singotrunan
  2. Camat kota dengan fasilitasnya memberikan bantuan berupa paketan PMT pada seluruh balita gizi buruk
  3. Kepala kelurahan yang sudah membuatkan dan mengeluarkan SK kader KP-ASI dan KADARZI
  4. Kepala kelurahan membuatkan surat keterangan domisili bagi orang tua yang tidak mempunyai KTP dan KK wilayah banyuwangi untuk persyaratan pembuatan Jamkesda / SPM bagi keluarga yang tidak mampu dan balitanya  membutuhkan perawatan dirumah sakit
  5. Tim PKK kecamatan dan kelurahan untuk menggerakkan aktivitas posyandu di masing-masing kelurahan wilayah kerja Puskesmas Singotrunan
  6. Kader Motivator gizi, KP-ASI dan KADARZI melakukan pendampingan pada bayi dan balita gizi buruk selama 24 jam
  7. Keterlibatan semua komponen masyarakat (SDM) melakukan sosialisasi SIRAMI Gizi mengingat kegiatan ini berawal dari,oleh dan untuk masyarakat, sehingga keberhasilan kegiatan sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat baik itu berupa dukungan dana, tenaga maupun sarana yang ada.

            Keberhasilan suatu program, tidak terlepas adanya sumber daya manusia yang mumpuni dan dukungan dana yang memadai sehingga tercipta kerjasama yang inovatif dari setiap lini antara lain Kepala Puskesmas Singotrunan, Lintas Sektor, Bidan Desa, Kader Posyandu, Tokoh Masyarakat  dan tentunya peran serta masyarakat di ikutsertakan ke dalam inovasi ini. Berbagai usaha telah dilakukan sebagai upaya perbaikan gizi, antara lain melalui usaha promosi gizi seimbang, penyuluhan gizi di posyandu, pemberian makanan tambahan termasuk MP-ASI, pemberian suplemen gizi seperti kapsul vitamin A dan zat besi Fe, pemantauan dan penanggulangan gizi buruk, gerakan ASI Eksklusif, keanekaragaman makanan, juga penggunaan garam beryodium. Perubahan prilaku dari masyarakat sendiri untuk selalu menerapkan cuci tangan pakai sabun sebelum dan setelah makan, dan BAB pada jamban yang sehat untuk menghindari penyakit diare yang dapat menyebabkan anak-anak mengalami penurunan berat badan. Adapun sumber daya keuangan yang merupakan sarana paling dominan dalam setiap kegiatan yaitu:

SUMBER DANA

 

  1.  

BANTUAN DANA

  1.  
  1.  

Rp. 20.560.000

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  • Taburia 550 kotak
  1.  
  1.  

Biskuit Milna 60 bungkus

  1.  
  1.  
  • SGM 3 400 gr, 60 kotak
  • Biskuit 124 bungkus
  • Prenagen 114 kotak
  • Mineral mix 242 bungkus

Bantuan khusus

  1.  

Lactogen 117 kotak

  1.  
  1.  

SGM 3 sebanyak 21 kotak

IDI Pusat

  1.  

Biskuit 686 bungkus

 

 

 

 

 

 

Penemuan Kasus oleh kader motivator gizi, masyarakat umum, tim penggerak PKK

Bidan Koordinator Wilayah

Koordinator P2P

Koordinator Gizi

Kepala Puskesmas

Sweeping oleh Petugas

Tindak Lanjut sesuai kasus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Media promosi yang digunakan dalam layanan ini antara lain melalui radio, instagram (puskesmas_singotrunanbwi), facebook (puskesmas singotrunan new), siaran keliling menggunakan ambulance, mengikuti pameran layanan inovasi publik di jawa timur.

Dalam pelaksanaan program tersebut, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh pemangku kebijakan antara lain :

  1. Banyak sekali orang tua yang menolak untuk datang dan berkunjung ke Posyandu dikarenakan para orang tua belum bisa menerima ataupun berbesar hati untuk mengakui bahwa anaknya atau balitanya masuk dalam kategori gizi kurang ataupun gizi buruk. Peranan yang paling penting dalam hal ini yaitu para petugas kesehatan. Petugas kesehatan haruslah bisa meyakinkan, membujuk dan mengajak para ibu untuk datang ke Posyandu demi kelangsungan tumbuh dan kembang anaknya. Petugas kesehatan juga perlu melakukan adanya sosialisasi terhadap para ibu sebagaimana mestinya agar ibu-ibu menyadari betapa pentingnya pemantauan status gizi anaknya
  2. Kendala lain yang juga berpengaruh dan berdampak negatif terhadap inovasi ini yaitu banyak warga masyarakat sekitar yang tidak mempunyai kartu pengenal tetap sehingga dibuatkan surat keterangan domisili oleh kepala kelurahan
  3. Inovasi ini juga tidak akan terhambat jikalau tidak ada komunikasi yang baik antara ibu dengan petugas kesehatan sehingga kegiatan tidak berjalan dengan baik. Banyak ibu yang beranggapan bahwa terjadi kesalahan pada alat ukur yang digunakan seperti timbangan berat badan yang digunakan dalam Posyandu. Para ibu beranggapan bahwa timbangan yang digunakan tidak terjamin keakuratannya, karena sebenarnya ibu balita tersebut tidak mau mengakui atau malu karena berat badan balitanya tidak naik atau kurus.Petugas kesehatan maupun kader harus memberikan pengarahan bahwa alat ukur yang digunakan sudah terjamin keakuratannya. Salah satu cara untuk meyakinkan para ibu yaitu dengan mengambil contoh ibu beserta anaknya yang selalu datang ke Posyandu untuk menimbang berat badan dengan timbangan yang sama dan alat timbangan sudah dilakukan tera ulang dalam 1 tahun sekali
  4. Tingkat pendidikan dan ekonomi warga yang rendah maka solusi yang dilakukan adalah dengan memberikan ketrampilan pada keluarga utamanya ibu agar bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga misalnya membuat tape manis,kripik singkong dll yang semuanya itu dilakukan oleh kelompok PKK kecamatan maupun kelurahan. Selain itu dilakukan penyuluhan oleh tim gizi maupun tenaga kesehatan tentang masalah kesehatan yang dihadapi
  5. Kurangnya pengetahuan serta wawasan masyarakat akan pentingnya asupan makanan yang cukup nutrisinya dan pola asuh yang kurang benar
  6. Penggalang dana untuk mendukung operasional kegiatan masih belum maksimal, maka solusi yang dilakukan adalah melakukan kerja sama dengan BAZ kecamatan banyuwangi, Dunia usaha, staf Puskesmas Singotrunan, dan masyarakat yang peduli untuk membantu pendanaan secara sukarela.

Untuk memantau kemajuan dan evaluasi kegiatan dipakailah sistem pencatatan dan pelaporan yang secara rutin bisa digunakan yaitu laporan bulanan kegiatan, lokmin lintas sektor (3 bulan sekali), lokmin lintas program (1 bulan sekali), pertemuan tim kader pendampingan bumil resti yang mengalami KEK tiap akhir bulan dengan pemantaun status gizi pada ibu dan pertemuan tim motivator gizi tiap akhir bulan dengan diadakannya operasi timbang setiap bulan pada bayi atau balita yang dilakukan rutin setiap bulan (1 bulan 1 kali) dengan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan semua balita di wilayah kerja Puskesmas Singotrunan. Setiap 1 tahun dua kali mengadakan kegiatan evaluasi gizi buruk dengan melaksanakan lomba festival gizi buruk.Hasil dari kegiatan operasi timbang ini digunakan untuk menentukan status gizi balita sehingga dapat mengantisipasi sedini mungkin terjadinya kasus gizi buruk sekaligus pemetaan daerah rawan gizi. kunjungan ke rumah warga oleh kader guna untuk mengajak para ibu yang tidak hadir ke Posyandu sehingga petugas kesehatan dapat menimbang berat badannya dan menentukan status gizinya.

Dalam rangka pengembangan inovasi di masa yang akan datang poin penting yang harus dilakukan adalah upaya peningkatan sosialisasi yang lebih intensif melalui media cetak, radio, siaran keliling dan dukungan dana yang berkesinambungan dari pihak terkait. Selain itu harus terus dibangun suatu langkah yang berkelanjutan. Mengingat inovasi SIRAMI Gizi ini menyangkut generasi ke depan, sebagai abdi Negara harus mau dengan ikhlas, peduli dan tulus dengan niat ibadah demi kemanusiaan membantu sesama. Tentunya dari program SIRAMI gizi ini diharapkan adanya output yang lebih baik dari tahun sebelumnya dan harus dijaga terus semangat dan kepedulian dari tim Sirami

Bagi pihak yang ingin mereplikasi layanan publik ini dukungan dan kerjasama yang solid antara petugas, lintas sektor, masyarakat dan ketersediaan dana adalah kunci sukses pelaksanaan kegiatan SIRAMI GIZI sehingga layanan yang diberikan dapat berjalan dengan optimal.

Informasi Selengkapnya: Download PDF
Kategori: Kesehatan
Personal Kontak : drg. Dwiyani Hariyati
Instansi : Puskesmas Singotrunan Banyuwangi



Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh
NEWSLETTER

Daftarkan alamat email Anda di sini untuk mendapatkan berita terbaru dari Direktori JIPPJATIM