Gebrakan SuSi (Suami Siaga) Turunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)

Kamis, 19 Mei 2016 - 17:33 WIB

Sampai tahun 2013, kematian bayi dan balita di Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, berturut turut 22 kasus (2010), 17 kasus (2011) dan 8 kasus (2012).  Tingginya tingkat Angka Kematian Bayi (AKB) berhubungan dengan tingginya kesenjangan antara kunjungan ibu hamil pada awal kontak (K1) dan kunjungan ibu hamil paripurna (K4). Hal ini dilihat dari laporan kegiatan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2010 Drop Out K1-K4 10% dan 25% pada 2011 (Target toleransi tidak boleh lebih dari 5%).

Kesulitan akses dari wilayah pedesaan ke Puskesmas Gucialit juga menjadi faktor yang memperlambat pasien dengan komplikasi kehamilan sampai di Puskesmas. Kesulitan ini disebabkan karena medan geografis wilayah Gucialit yang didominasi oleh lembah dan pegunungan. Jarak terjauh wilayah desa sampai di puskesmas sekitar 20 kilometer yang membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan. Kondisi ibu hamil yang datang ke Puskesmas sudah “kasip” atau terlambat dirujuk dan ditangani. Hambatan lain disebabkan karena budaya setempat dalam pengambilan keputusan terkait persalinan yang didominasi oleh keluarga besar. Segala macam keputusan harus atas izin keluarga, sehingga posisi suami dan ibu hamil menjadi lemah termasuk keputusan dimana, kapan, dan siapa yang akan membantu persalinan.

Inovasi “Gebrakan Suami Siaga (SUSI)” mempromosikan kebiasaan baru bahwa tanggungjawab persalinan tidak mutlak diputuskan oleh keluarga besar tetapi suami dan ibu hamil sendiri sangat berperan penting.  Keterlibatan suami, diharapkan dapat mengurangi risiko kematian ibu pada masa kehamilan, persalinan, dan kematian bayi pada awal kehidupannya.

Implemetasi program ini meliputi: (a) Pendampingan Suami Siaga merupakan program yang memberdayakan suami dalam pengambilan keputusan dan tanggungjawab kepada istri, (b) pemberdayaan keluarga, merupakan rangkaian kegiatan yang diawali dari pendataan kelengkapan dokumen administratif ibu hamil, pendampingan, pengawalan, transfer ilmu pengetahuan, dan pelatihan (c) pemenuhan 5 Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Program ini mulai dijalankan pada 2011 yang bersifat terpadu, lintas program, dan lintas sektoral.

Gebrakan SUSI mampu menurunkan angka kematian bayi, yaitu AKB 8 kasus (2013), 2 kasus (2014), 3 kasus (2015) dan 5 kasus (2016) dari sebelumnya 22 kasus (2010).  Sementara Angka Kematian Ibu bertahan pada angka zero (nol).  Pencapaian AKB tersebut dibawah rata-rata Kabupaten Lumajang yaitu 5,5 pertahun (Target MDG’s)

Hasil diskusi bersama masyarakat dalam proses pendampingan banyak didapatkan informasi yang ada dimasyarakat. Mulai sejarah dari masing-masing wilayah, kebiasaan yang sering dilakukan, tokoh masyarakat yang menjadi panutan dan rujukan tiap keputusan, sumber daya lokal yang ada di masyarakat, kegiatan ssehari-hari masyarakat, sampai kentalnya budaya patrilinial dalam tiap pengambilan keputusan di masyarakat.

Beberapa masalah yang mengemuka baik dalam bentuk struktur maupun kultur, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, telah mendorong masayrakat untuk mengembangkan jaringan dan interaksi dengan tim pendamping. Focus Group Disccusion (FGD) yang berlangsung beberapa kesempatan antara tim pendamping dari puskesmas dengan masyarakat termasuk keikutsertaan dukun bayi yang ada di wilayah Gucialit, dapat diidentifikasi permasalahan masih terjadinya kematian bayi beberapa tahun terakhir ini. Masalah ini dinilai cukup peting untuk segera dipecahkan terutama upaya mengeliminir kematian bayi.

Hasil dari musyawarah dengan masyarakat kemudian dibahas di mini lokakarya bulanan puskesmas dan mini lokakarya tribulanan lintas sektor. Pada beberapa pembahasan disepakati program Suami Siaga sebagai solusi. Dengan komitmen Kepala Puskesmas dan semua staff Puskesmas Gucialit maka disusunlah tim pelaksana Suami Siaga, SK, SOP, dan mengadvokasi penggalangan dukungan lintas sektor. Sedangkan masing-masing pemegang program berperan sebagai fasilitator pelaksanaan Suami Siaga dan pembuatan modul pelatihan Suami Siaga.

Suami Siaga juga didukung oleh kader Gerbangmas Siaga yang berperan penting dalam pengawalan ibu hamil dan monitoring evaluasi hasil monitoring kegiatan suami siaga. Komponen penting dalam suami siaga adalah optimalisasi Program Pengawalan Pencegahan dan Penanganan Komplikasi (P4K) yang mana pemerintah desa  sangat berperan dalam pelaksanaan dan dukungan pendanaan.

SKPD terkait yaitu Kecamatan, PKK, KUA, UPT Pendidikan, Badan KB dan UDD PMI berperan dalam penguatan kelembagaan dan koordinasi pelaksanaan kegiatan. Dinas Kesehatan dan Pemerintah Daerah berperan dalam pembuatan regulasi untuk keberlanjutan dan pengembangan Suami Siaga.

 

Kategori: Kesehatan
Personal Kontak : Kabupaten Lumajang
Instansi : Kabupaten Lumajang



Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh