Samsat Judes yang Ramah

Kamis, 06 Oktober 2016 - 12:21 WIB
Samsat Jujug Desa sedang melayani warga di balai desa.

Selain substansi, kemasan kian penting saat ini. Istilah ”juleha” dan ”rupawan” dari inovasi rumah potong hewan Kota Blitar merupakan ”kemasan” untuk menarik perhatian. Tetapi, lebih karena substansinya (di antaranya, 78,75 persen hasil survei kepuasan publik) sehingga inovasi itu masuk 20 nomine Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Pemprov Jatim (yang ketiga tahun ini). Di antara 98 inovasi yang diajukan, akan dipilih 12 pemenang. Evaluasi dilakukan dengan cara penceritaan di makalah, paparan, dan uji lapangan.

Judul inovasi lain menjadi nomine cukup menggoda. Ada Sigap Sratus dari Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan. Kepanjangannya: aksi tanggap sapi Madura bunting dan partus (beranak). Intinya, memperlakukan sapi yang bunting dan beranak seperti mengawal kehamilan dan kelahiran bayi sehingga bisa sehat.

Lain lagi Samsat Jombang, unit pelaksana teknis (UPT) Pemprov Jatim menyebut inovasinya adalah Samsat Judes. Pelayanan itu justru ramah karena langsung melayani wajib pajak di desa (jujug desa –judes). Tidak perlu antre di kantor samsat. Inisiator Samsat Judes adalah Kepala Samsat Etick Nurbaiti dan Kasatlantas Polres Jombang AKP Melyssa Amalia. ”Sebab, kami berdua sama-sama perempuan,” kata Melyssa.

Inovasi serupa di Jember dijuduli lebih ceria, Samsat Hore (home care). Juga berupa jemput bola pembayaran pajak kendaraan bermotor ke rumah wajib pajak dengan memanfaatkan teknologi informasi. Itu inovasi karya Kepala UPT Endang Budihati, yang juga dibantu Kapolres AKBP Sabilul Alif.

Para inovator juga menginovasi penanganan kepada pengidap gangguan jiwa. Dinkes Provinsi Jatim menamai ATM-pasung dan e-pasung. Yakni, administrasi terpadu manajemen pasung dan memantau dan mendampingi korban pasung berdasar data elektronik. Para relawan di kerahkan untuk membe baskan pasung, kemudian mendampingi terapinya.

Sementara itu, Puskesmas Bantur, Kabupaten Malang, melangkah lebih jauh lagi lewat inovasi yang bernama Perkes Wa Mas. Selain membebaskan pasien dari pasung dan mendampingi pengobatannya, gerakan yang dipimpin perawat Soebagijono itu sekaligus memberdayakan hingga bisa bekerja.

Untuk inovasi rumah sakit, namanya tidak mengentak. Puspa (pusat pantauan rumah sakit) karya RSUD Sumenep. Itu berupa pembangunan jaringan data terintegrasi untuk memudahkan penanganan pasien, termasuk interaksi masyarakat dengan rumah sakit. Lain lagi dengan RSUD Lumajang, yakni Rumah Sakit Ramah Anak. Menciptakan suasana bermain bagi pasien anak, termasuk penyajian menu makanan. Anak di dalam kandungan pun sudah diramahi dengan meminta sang ayah mendampingi istrinya saat kelahiran.

RSUD Tulungagung membuat TEMS (Tulungagung Emergency Medical Services). Yakni, pelayanan sigap berupa pengiriman ambulans ke lokasi terdekat dengan memanfaatkan teknologi informasi terpusat. Selain itu, ada pelayanan pasien risiko sakit jantung berupa tombol darurat. Dokter memantau baik langsung di ambulans maupun memandu penanganan darurat di RS lewat layar monitor langsung dari dalam ambulans. Nama memang tak boleh menghilangkan ke seriusan menggarap substansi inovasi.(roy/www.jpip.or.id)

Sumber: www.jpip.or.id


Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh
NEWSLETTER

Daftarkan alamat email Anda di sini untuk mendapatkan berita terbaru dari Direktori JIPPJATIM