Juleha Rupawan Tak Lagi Membanting

Kamis, 06 Oktober 2016 - 12:00 WIB
RESTRAINING BOX: Sapi dibaringkan secara perlahan dengan alat hidrolik di RPH Kota Blitar

Siapa yang tertarik dengan rumah pemotongan hewan? Tak dinyana, tempat ini juga bisa diinovasi dengan menarik dan unik demi melindungi konsumen daging. Kisah JPIP dari Kota Blitar.

Inovasi di zaman otonomi daerah sekarang ini sering muncul di tempat-tempat yang jauh dari so otan. Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Blitar menjadi salah satu contoh. Unit pelaksana teknis daerah (UPTD) yang dipimpin drh Dewi Masyitoh ini serius berbenah. Hasil kasat matanya, RPH ini rapi, bersih, dan tak berbau.

Mulai hewan datang, disembelih, hingga pembuangan limbah dijadikan prosedur standar operasi (PSO). Hasil akhir yang dituju adalah kualitas produk daging yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). ”Kami ingin mengubah anggapan masyarakat bahwa RPH itu tak teratur, kumuh, dan berbau,” kata Dewi Masyitoh pada Senin tengah malam (26/9).

Saat itu, Dewi bersama Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Ir Djatmiko Budi Santosa sedang menerima tim juri Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Pemprov Jatim. Meski untuk kunjungan penilaian seperti ini pasti kesiapan lokasinya dirapikan, jelas ada yang tak bisa dibuat cepat-cepat. Kentara beda antara yang jadi kebiasaan dan yang dibikin-bikin.

Memasuki halaman berpaving rumah pemotongan hewan (juga disingkat ”rupawan”) itu memang tak ada bau anyir. Fasilitas-fasilitasnya terlihat bersih, yakni bangunan utama, tempat penurunan ternak, kandang, tempat pakan, lab, kantor administrasi, tempat istirahat, loker, musala, kantin, ruang ganti, toilet, dan menara air. Tempat penyembelihan babi di pisahkan jauh dari rupawan halal ini.

”Untuk kamar mandi, kami sediakan air hangat,” kata Dewi. Sebab, operasi rupawan ini sering tengah malam hingga dini hari, menyesuaikan dengan irama perdagangan daging yang harus pagi-pagi. Daging paling segar hanya bertahan enam jam. ”Konsumen kita suka karkas atau daging segar. Padahal, daging beku bisa lebih sehat karena pembekuan bisa mematikan kuman dan bakteri pengganggu,” tambah alumnus FKH Unair itu.

Kesejahteraan hewan atau sapi yang akan disembelih juga diperhatikan. Penurunan sapi dari truk pengangkut tidak langsung anjlok jleg, tetapi dilakukan di plengsengan beton kasar setinggi bak truk di dekat kandang. Lalu, sapi diistirahatkan sampai 12 jam agar tidak stres. Saat itu ada tiga sapi limusin besar berbobot 5–8 kuintal yang menunggu. Dokter hewan memeriksa mereka sebelum disembelih, hindari sapi sakit atau berpenyakit. Juga, mencegah ada betina produktif dijagal.

Sapi lalu digiring lewat gang ke ruang penyembelihan. Kepala Dinas Djatmiko menunjukkan alat unggulan terbaru rupawan itu, yaknirestraining box. Alat yang beroperasi sejak tahun lalu ini berupa kotak pipa besi untuk mengurung rapat badan sapi. Setelah sapi terkurung, alat seharga Rp 165 juta itu dimiringkan pelan-pelan dengan tenaga hidrolis.

Sapi pun tergeletak miring bersama alat itu, siap disembelih. Tumpahan darah sembelihan langsung disemprot air dan mengalir ke selokan oleh petugas. Dari 19 petugas rupawan, yang terbanyak (9 orang) tenaga kebersihan dan sanitasi. Sedangkan darah yang tertampung di bak dari kucuran leher juga dibuang. ”Selain tidak sehat, juga tidak halal,” tambah Dewi.

Proses penyembelihan pun lebih nyaman, baik bagi sapi maupun ”juleha” (juru sembelih halal) dan pembantunya. ”Tidak ada lagi bantingan,” kata Djatmiko. Selain terlihat kejam, membanting sapi bisa menurunkan kualitas daging karena bisa memar atau patah kaki, tak memenuhi daging ”utuh”. Juga ada kemungkinan belum mati sempurna saat dikuliti, yang bisa meragukan dari aspek ”halal”. Padahal, standarnya harus ASUH tadi.

Penyembelihannya mulai masuk restraining box (kerangkeng pembaring, Red) itu cuma 10 menit. Kalau pakai cara bantingan bisa lebih lama. Dibutuhkan lebih banyak tenaga serta berisiko bagi petugasnya (tertendang sapi). Setelah dipotong urat lehernya, di tunggu sampai sapi berhenti menghabiskan sisa tenaga. Bisa sampai 10 menit, bergantung besar sapi.

Sehari alat ini bisa dimanfaatkan untuk 8–10 ekor sapi. Dengan retribusi hanya Rp 50 ribu seekor. Saat Idul Adha lalu, Wali Kota M. Samanhudi Anwar menggratiskan penyembelihan di sana. Alhasil, hari pertama ada 27 sapi dan hari kedua 12 sapi dipotong.

Proses pengulitan dan pemotongan daging mengalir cepat. Para juleha dan kuli, yang dibawa pemilik sapi, sigap memisahmi sahkan kulit, jeroan, lambung, dan bagian-bagian daging (paha, iga, punggung), juga boning (memisahkan daging dari tulang). Dengan pisau supertajam (”impor dari Jepang”, kata Dewi) dan kapak. Potongan daging besar dikerek dengan rantai hoist crane di langit-langit ruang sehingga sedapat-dapatnya daging tak kena lantai.

Setelah ditimbang, potongan-potongan itu dimasukkan ke gerobak motor yang baknya logam antikarat. Kendaraan ini menunggu di pintu keluar daging. Lambung berisi limbah dibawa ke ladang pertanian milik dinas. Jadi kompos dan pupuk, sehari 3–4 kuintal.

Standar profesi juleha juga diperhatikan. Di dinding kantornya, berjajar sertifikat pelatihan penyembelihan yang efektif dan halal. Selain itu, ada Nomor Kontrol Veteriner (NKV), semacam sertifikat standar pelayanan rupawan. Pelayanan rupawan itu juga diaudit agar mendapat NKV ini. Kepala Dinas Djatmiko menyebut rupawan Kota Blitar ini jadi salah satu percontohan nasional.

Antusiasme tampak dalam menginovasi rupawan ini. Meski yang dikelola bukan manusia, ujungnya juga untuk manusia. ”Kami ingin menjamin kualitas daging yang tersaji di meja makan.” (roy/www.jpip.or.id)

Sumber: www.jpip.or.id


Komentar:
Tidak ada komentar.
Didukung oleh